Cheers, UK! by @CitraDP (Citra Dyah Prastuti)

Traveljunkieindonesia.com – Aha, ini nih buku perjalanan tentang Inggris, khususnya London. 100% Travel Junkie Indonesia sangat lah iri, iri, iri sama penulis buku ini yang bilang “UK boleh mahal tapi kenapa harus keluar uang kalo bisa gratisan? Hoho..” Kenapa iri? ya karena si penulis bisa Kuliah & Traveling GRATIS muter-muter negeri penuh CCTV ini. Berasa Artis kan lo jalan disana, tapi yang lebih penting dari itu buku ini dapat menjadi inspirasi bagi anak muda Indonesia yang ingin lanjut kuliah S2 ke UK dan jalan-jalan gratis tentunya 😀

Dalam buku ini, Citra dengan baik mengagendakan kegiatan traveling selama kunjungannya belajar di London, dia mengelilingi kota-kota di luar London di mana kisah perjalanannya menarik dan asik untuk disimak.

Bersama mahasiswa Indonesia lainnya yang juga sekolah di Inggris, Citra bervakansi mengunjungi tempat-tempat yang selama ini gambarnya cuma bisa dilihat di internet dan majalah traveling. Ketika mengunjungi suatu tempat, Citra menggambarkan bagaimana suasananya, apa saja yang menarik perhatiannya serta tips keuangan saat berbelanja di shopping area. Hal ini penting ya, mengingat Inggris adalah, kalau boleh mengutip Citra, “Negara serba mahal”. Dibandingkan Rupiah, tentu kurs Poudsterling akan mematok harga barang-barang jauh lebih mahal.

Untuk Travel Junkies yang berencana ke Inggris tapi kanker alias kantong kering akan sangat terbantu dengan membaca buku ini. Citra yang di sana bukan sebagai turis, melainkan mahasiswa, di mana pengeluaran akan banyak dihabiskan pada biaya hidup tentunya. Dan, harus pintar-pintar mengelola uang yang diberikan oleh pihak pemberi beasiswa. Pengelolaan di sini berarti, memasukkan agenda jalan-jalan, belanja serta hura-hura ke dalam list kegiatan selama sekian periode di Inggris 😀

Damn, buku ini asik buat dibaca pas lagi traveling. Apalagi bacanya sambil tidur-tiduran di atas pasir putih, angin sepoi-sepoi, dan birunya laut kepulauan Raja Ampat. Omigod! Bukunya Citra yang Cheers, UK! Saya rekomendasikan buat kamu yang ingin tinggal di London, UK, atau buat yang mau sekolah atau tinggal disana, boleh benerr… Citra ceritanya lumayan informatif. Dan, gaya ceritanya asik riang gembira! 😀

Semoga ada Departemen Pariwisata Negara mana gitu ngundang  atau ngasih beasiswa kepada Travel Junkie Indonesia ini. Nanti, saya akan nulis tentang negaranya. Ya 11-12 lah sama cheers, UK-nya Citra! AMIEN! 😀

Mau tau detail kisah Citra Dyah Prastuti, termasuk tips and trik selama kuliah atau traveling ke UK? Yuk beli bukunya di toko-toko buku terdekat kota mu ya…

blognya Citra | Twitternya Citra

Follow TJ on Twitter @TravelJunkieID

Menjangan, Pulau Eksotis Bali Barat

Menjangan Island, Bali (Image courtesy of Azis Abdullah)

Traveljunkieindonesia.com – Malam itu terang rembulan, saya dan teman travel junkies memutuskan untuk diving dan snorkling besok pagi di Pulau Menjangan, Bali. Melipirlah kita dengan skuter cantik di subuh buta. Damn! kita itu memang Travel Junkies. Pagi itu, Aktivitas di Labuhan Lalang sudah sibuk sejak pukul 7 untuk mengantarkan wisatawan diving, snorkling, dan sembahyang. Pulau Menjangan yang terletak di sebelah utara Bali Barat ini memang terkenal karena alam bawah lautnya yang indah. Hanya perlu 30 menit untuk sampai ke pulau terbesar di kawasan Taman Nasional Bali Barat itu. Namun, kami tidak berangkat dari Labuhan lalang, melainkan langsung ke dive center biar lebih murah sedikit. Dan, Sialnya kita lupa bawa kamera underwater untuk diving. Mau sewa mahal bow…

Pasir putih yang mengelilingi pulau Menjangan menjorok hingga ke dasar laut. Sandy Slope adalah situs penyelaman pertama. Hari itu, kejernihan air laut sangat luar biasa, jarak pandang bisa mencapai 25 meter. Dari atas kapal, coral cantik warna-warni dalam lautan bisa terlihat. Beruntung lah kami, alam saat itu memberikan sisi terbaiknya.

Sweetlips, Angelfish, Batfish merupakan salah satu dari sekian banyak spesies ikan penghuni bawah laut Menjangan. Begitupun Gorgonian sea fans, coral berbentuk kipas, adalah highlight pulau itu.

Menjangan Underwater (Image courtesy of Azis Abdullah)

Pura Gili Kencana di pulau Menjangan, memberikan sensasi yang berbeda. Dasar pasir putih, sudah tidak terlihat jelas seperti di penyelaman pertama tapi sebagai gantinya, coral garden dengan anekaragam hard dan soft coral, menghiasi taman bawah laut itu. Tak jauh dari situ, tampak coral wall yang menjulang hingga kedalaman 30 meter. Rangkaian bunga coral di dinding dengan sedikit arus membawa kami seakan terbang bebas menyaksikan keindahan bawah laut bagaikan film yang berjalan.

Eksotisme pulau Menjangan tidak hanya berakhir di keindahan bawah lautnya saja, alam daratannya pun memiliki pesona keajaiban tersendiri. Pulau Menjangan diambil dari kata Menjangan, yaitu rusa besar yang menjadi penghuni tetap di sana. Habitat mereka dilindungi oleh pemerintah dan termasuk dalam kawanan Taman Nasional Bali Barat.

Untuk menjaga keseimbangan pulau tersebut, kaum Hindu Bali mendirikan Pura di sana. Ada tiga Pura, Pura Gili Kencana yang merupakan salah satu Pura tertua di Bali, Pura Klenting Sari, dan Pura Segara Sigi. Di salah satu Pura itu, terdapat patung Ganesha yang berdiri kokoh menghadap ke laut menjaga keadaan di sana.

Begitu banyak kekayaan alam di Bali Barat tapi jika tidak dirawat kemungkinan kekayaan itu akan hilang. ASiknya penduduk lokal dan pemerintah mengerti akan hal itu, tinggal kami para travel junkies yang harus sadar untuk tetap menjaga lingkungan.

Rekomendasi Dive Center: Disthiscuba Discover West Bali | P. +6281337664214, +628283722673

Follow TJ on Twitter @TravelJunkieID

Travel Junkie Indonesia Return Ticket To The Moon

Traveljunkieindonesia.com – Traveling ke Gili Trawangan tidak membeli tiket ke Bulan bagaikan “makan sayur asem tanpa ikan asin”. Menikmati Magic Mushroom bersama teman-teman di bawah kerlap-kerlip bintang, suara debur ombak, angin semilir merupakan hal yang mewah.

Follow TJ on Twitter @TravelJunkieID

Kalibukbuk, Dolphins, Friends

Traveljunkieindonesia.com – Perjalanan kali ini mengendarai sepeda motor bersama Amel Meilan dimulai dari Jimbaran menuju Pulau Menjangan untuk diving, dan bermalam di Kalibukbuk yang lebih dikenal dengan panggilan Lovina. Ok kali ini akan membahas Lovina, kawasan wisata Lovina itu terletak di bagian utara pulau Bali, kira-kira 3,5 jam perjalanan dari kawasan Kuta bersepeda motor. Pantai ini terkenal akan dolphins di pagi hari.

Berkunjung ke Lovina sebenarnya sudah tak terhitung lagi, terkadang kalau sedang buntu mencari ide kreatif saya suka kabur mengasingkan diri ke Harris Homestay. Beliau pria paruh baya keturunan chinese Surabaya yang sudah tinggal di bali sejak masih muda. “Harris” cukup namanya saja saya memanggilnya, dia tidak mau dipanggil dengan “Pak Harris” kelakarnya. Harris tinggal bersama istrinya yang WNA Jerman dan dikaruniai seorang putra yang tampan dengan wajah indonya. Mereka tinggal menjadi satu dengan Homestay miliknya, itu lah asiknya menginap disana. Kenapa? Karena berasa seperti di rumah sendiri. Mereka akan memperlakukan Anda bukan seperti tamu tapi seperti keluarga, orang tua kepada anak, dan teman.

Perjalanan untuk melihat aksi Dolphins ini dimulai pada pagi hari, tinggal bilang ke Harris “besok pagi saya mau liat dolphin”, beliau langsung menelpon si bapak yang akan membawa kita lihat dolphins besok paginya. Harga hanya Rp.30-ribuan, dijamin pengalaman menikmati aksi lumba-lumba itu akan menyenangkan. Tapi jangan terkejut seandainya mereka juga tidak muncul. Kadang-kadang itu bisa terjadi juga.

Untuk menginap di Harris Homestay bisa langsung kontak Harris di telp (0362) 41152   |   Harga: Rp 50 ribu – Rp 120 ribu

Follow TJ on Twitter @TravelJunkieID

Penikmat Lingerie Show itu Semua Usia

Traveljunkieindonesia.com – Menghadiri undangan Fashion Show itu memiliki keasikan sendiri. Tapi, datang ke Lingerie Show itu memiliki sensasi baru untuk seorang traveler seperti saya. Dan, ternyata event ini tidak hanya dihadiri blogger, social media, dan wartawan. Terlihat anak kecil juga sangat menikmati Lingerie Show, mungkin beliau mewakili salah satu fashion blogger/social media cilik.  Hebat zaman New Wave ini!

Salam Travel Junkie Indonesia

Follow TJ on Twitter @TravelJunkieID

The Travel Junkie & Marketing To Netizen

Bali, Traveljunkieindonesia.com – Youhou pagi ini Travel Junkie Indonesia di telepon oleh Marketeers untuk ikut menghadiri acara Marketeers Dinner seminar Roadshow “Marketing to Netizen”, Senin, (1/11/2010) pukul 18.00 s.d. 21.30 WIB di Gedung BPR Lestari / Kampus MIM, Denpasar.

Marketeers Dinner Seminar dengan tema “”, menampilkan Hermawan Kartajaya sebagai pemateri utama. Pak Hermawan Kartajaya memaparkan, informasi mengenai profil psikografis pengguna internet di Indonesia, termasuk dengan perkembangan fenomena gaya hidup Netizen, berdasarkan temuan riset di lapangan mengenai “Netizen Indonesia 2010: Attitude and Behavior”.

Continue Reading

Menyelam di Waigeo, Raja Ampat? Pasti mengesankan!

Traveljunkieindonesia.com – Tidak lengkap tentunya berkunjung ke Raja Ampat dan tidak menyelami keindahan bawah lautnya. Meskipun pesona di atas permukaan air tidak kalah memukau, bagaimanapun juga Raja Ampat dikenal sampai mancanegara sebagai surga bawah laut.

Di divesite Myoskon kita dapat diving baik pada pagi hari maupun malam hari dan melihat perbedaan suasananya. Terumbu karang cantik dan padat mayoritas tidak berpindah namun pada malam hari lautan terlihat lebih lenggang dari ikan-ikan yang biasa berseliweran pada pagi hari. Gantinya beberapa terumbu karang yang tidak tampak pada siang hari mulai muncul di waktu gelap seperti Orange Tube Coral yang tampak mencolok di malam hari dengan warna oranye, atau si Sea Pen yang berbentuk seperti daun berbulu berwarna cokelat.

Pada dive pertama saya di Raja Ampat, tanggal 16 Oktober 2010, saya langsung berjumpa dengan hiu Wobbegong di Myoskon. Mungkin mendengar kata hiu akan membuat sebagian besar orang merasa tegang tapi kalau melihatnya seperti saya waktu itu pasti akan berkomentar sama, lucu! Mulutnya yang pipih dengan aksen seperti rumbai-rumbai akar disandarkannya di atas batu, dan tampak sedang tidur malas. Tampak sangat imut dan tidak berdaya. Memang si Wobbegong yang berbentuk pipih ini senang melipir di dasar lautan dan bermotif mirip karpet pula makanya disebut sebagai carpet shark (hiu karpet).

Bila kita melihatnya tidak perlu takut, sama seperti kebanyakan satwa laut lain, mereka tidak akan menggigit  kecuali merasa terganggu seperti misalnya terinjak oleh kita. Sedikit paradoks mengingat sebutannya adalah hiu karpet. Setelah pertemuan pertama itu, 2x dive berikut saya berjumpa lagi dengan Wobbegong yang lain. 3x bertemu Wobbegong dalam 3x dive! Tetapi tetap tidak membosankan.

Di divesite Manta Slope, sesuai dengan namanya, kita dapat bertemu si elegan Manta Ray. Gerakannya yang anggun seperti terbang dalam slow motion selalu mengagumkan untuk disaksikan. Banyak yang mengatakan bahwa pada musim tertentu, yaitu antara Oktober sampai Desember, kita akan dapat melihat 30 Manta Ray sekaligus di site ini. Mungkin karena itu juga si Manta menjadi maskot Raja Ampat sampai dibuatkan gedung pertemuan berbentuk pari di Waisai, ibukota Raja Ampat.

Bila senang melihat ikan dalam jumlah yang banyak, cobalah Cape Kri. Tidak lama setelah menyelam masuk ke air, kami disambut sekelompok barakuda sementara di sekitar kami penuh dengan ikan lain lalu lalang. Kebetulan saat itu sudah sedikit siang sehingga mungkin memang saatnya para ikan makan. Yang mengherankan, ikan-ikan tampak begitu tak acuh dengan kehadiran mahluk asing di antara mereka, kami para diver. Mereka cuek berenang sangat dekat dengan kami, melintas tepat di depan mata, kadang malah tampak seperti ingin menabrak saya. Kadang juga sedikit mengganggu karena tiba-tiba melintas tepat depan kamera padahal saya sedang berusaha mengambil obyek lain. Tapi sangat menyenangkan karena saya bukan dianggap sebagai manusia yang membuat mereka merasa terganggu. Bagi mereka saya hanyalah mahluk laut lain yang tidak mengancam. Rasanya seperti kehadiran saya diterima oleh para ikan. Menyenangkan.

Tiap penyelaman adalah pengalaman menarik yang berbeda satu sama lain. Namun satu kesimpulan yang saya yakini dari beberapa dive yang saya lakukan, tidak ada yang namanya diving buruk di Raja Ampat. Apakah diving dalam atau dangkal, pagi atau malam, air tenang atau berarus, di antara terumbu karang atau pasir yang diam-diam dihuni banyak satwa

Tidak lengkap tentunya berkunjung ke Raja Ampat dan tidak menyelami keindahan bawah lautnya. Meskipun pesona di atas permukaan air tidak kalah memukau, bagaimanapun juga Raja Ampat dikenal sampai mancanegara sebagai surga bawah laut.

Di divesite Myoskon kita dapat diving baik pada pagi hari maupun malam hari dan melihat perbedaan suasananya. Terumbu karang cantik dan padat mayoritas tidak berpindah namun pada malam hari lautan terlihat lebih lenggang dari ikan-ikan yang biasa berseliweran pada pagi hari. Gantinya beberapa terumbu karang yang tidak tampak pada siang hari mulai muncul di waktu gelap seperti Orange Tube Coral yang tampak mencolok di malam hari dengan warna oranye, atau si Sea Pen yang berbentuk seperti daun berbulu berwarna cokelat.

Pada dive pertama saya di Raja Ampat, tanggal 16 Oktober 2010, saya langsung berjumpa dengan hiu Wobbegong di Myoskon. Mungkin mendengar kata hiu akan membuat sebagian besar orang merasa tegang tapi kalau melihatnya seperti saya waktu itu pasti akan berkomentar sama, lucu! Mulutnya yang pipih dengan aksen seperti rumbai-rumbai akar disandarkannya di atas batu, dan tampak sedang tidur malas. Tampak sangat imut dan tidak berdaya. Memang si Wobbegong yang berbentuk pipih ini senang melipir di dasar lautan dan bermotif mirip karpet pula makanya disebut sebagai carpet shark (hiu karpet).

Bila kita melihatnya tidak perlu takut, sama seperti kebanyakan satwa laut lain, mereka tidak akan menggigit  kecuali merasa terganggu seperti misalnya terinjak oleh kita. Sedikit paradoks mengingat sebutannya adalah hiu karpet. Setelah pertemuan pertama itu, 2x dive berikut saya berjumpa lagi dengan Wobbegong yang lain. 3x bertemu Wobbegong dalam 3x dive! Tetapi tetap tidak membosankan.

Di divesite Manta Slope, sesuai dengan namanya, kita dapat bertemu si elegan Manta Ray. Gerakannya yang anggun seperti terbang dalam slow motion selalu mengagumkan untuk disaksikan. Banyak yang mengatakan bahwa pada musim tertentu, yaitu antara Oktober sampai Desember, kita akan dapat melihat 30 Manta Ray sekaligus di site ini. Mungkin karena itu juga si Manta menjadi maskot Raja Ampat sampai dibuatkan gedung pertemuan berbentuk pari di Waisai, ibukota Raja Ampat.

Bila senang melihat ikan dalam jumlah yang banyak, cobalah Cape Kri. Tidak lama setelah menyelam masuk ke air, kami disambut sekelompok barakuda sementara di sekitar kami penuh dengan ikan lain lalu lalang. Kebetulan saat itu sudah sedikit siang sehingga mungkin memang saatnya para ikan makan. Yang mengherankan, ikan-ikan tampak begitu tak acuh dengan kehadiran mahluk asing di antara mereka, kami para diver. Mereka cuek berenang sangat dekat dengan kami, melintas tepat di depan mata, kadang malah tampak seperti ingin menabrak saya. Kadang juga sedikit mengganggu karena tiba-tiba melintas tepat depan kamera padahal saya sedang berusaha mengambil obyek lain. Tapi sangat menyenangkan karena saya bukan dianggap sebagai manusia yang membuat mereka merasa terganggu. Bagi mereka saya hanyalah mahluk laut lain yang tidak mengancam. Rasanya seperti kehadiran saya diterima oleh para ikan. Menyenangkan.

Tiap penyelaman adalah pengalaman menarik yang berbeda satu sama lain. Namun satu kesimpulan yang saya yakini dari beberapa dive yang saya lakukan, tidak ada yang namanya diving buruk di Raja Ampat. Apakah diving dalam atau dangkal, pagi atau malam, air tenang atau berarus, di antara terumbu karang atau pasir yang diam-diam dihuni banyak satwa unik. Pasti akan menemukan sesuatu yang mengesankan di setiap penyelunik. (Kusumorini Susanto)

Contact the writer at Twitter @kusumorini & @TravelJunkieID

Masakan Nusantara Warung Bu Siti

Hi Warga DKI Jakarta, Kalian lapar???

Traveljunkieindonesia.com – Telah di Buka WARUNG BU SITI dengan aneka masakan tradisional Indonesia. Bermula dari mendalami, lalu memperkaya, hingga menurunkan berbagai resep masakan tradisional Indonesia kepada keluarga, Warung Bu Siti didirikan. Aneka makanan yang disajikan merupakan yang terbaik dari Nusantara. Tentu saja, resep-resepnya telah disempurnakan terlebih dahulu.

Bagi Anda penggemar makanan Nusantara, Warung Bu Siti ini sangatlah pas dilidah. Selain itu, Warung Bu Siti menerima pesanan seperti Tumpengan, Nasi Box untuk kantor, meeting, dan acara-acara lainnya loh…

Fast Track

Telp: Sigit (021) 94885284/7353656    |    Harga: Nego

Contact the writer at Twitter @TravelJunkieID

Vakansi Bersama @wsatcc

Traveljunkieindonesia.com – “White Shoes & The Couples Company is pleased to announce the release of their sophomore album “Album Vakansi” , followup to their previous self-titled debut album and EP, Skenario Masa Muda.

Album Vakansi was released on October 6 2010 on Purapura Records and Demajors. It features Indonesian respected musicians, Oele Pattiselanno and Fariz RM.

Producing Album Vakansi had been quite a tremendous experience. The album speaks for itself as it built upon moments, memories, stories and journeys of each member and as a band, like when they hook up for the first time during their college years back in 2002,or when they travelled The USA for the SXSW and CMJ festival in 2008,or even childhood memories and everything that had been captured in between those time.

It took lots of sound from different instruments to interpret those captured moments into stories and be embedded in Album Vakansi. There are Cellos, violas, violins, trombones, trumpets, electric piano, vintage synthesizers, marimba and many more which made the eclectic sound of Album Vakansi a true representation of storytellers in a musical sense. (DF)”, From wsatcc

Album ini sangat asik dinikmati untuk Anda yang bergaya hidup nomaden dan dalam perjalanan keliling Nusantara. Kenapa? karena album ini bernuansa vakansi dan Indonesia tempo dulu sangat  terasa, seakan-akan kita dibawa keliling Nusantara era 60-70an. WSATCC memang musisi jenius Indonesia masa kini.

“Mari saya ceritakan tentang beberapa lagu dalam album baru ini dan kolaborasi yang kami lakukan dengan beberapa seniman hebat diluar White Shoes & The Couples Company.

“Vakansi” Lagu ini diciptakan oleh Ricky Surya Virgana, Ricky selalu menyerahkan kepada saya sepenuhnya untuk penulisan lirik, karena melodinya sangat tropis dan sarat dengan nuansa tamasya dan berlibur, maka saya tulis liriknya mengenai itu. Teringat album-album kaset jazz combo dari Jack Lesmana yang biasa kita dengarkan dalam mini bus ketika White Shoes & The Couples Company berpergian keluar kota, salah satu pengisi gitar didalamnya adalah Oele Pattiselanno. Maka itu tercetuslah ide untuk berkolaborasi dengan beliau. Lagu ini menjadi sangat spesial karena rekamannya direkam secara live, dengan bantuan Riza Arshad sebagai Sound Engineer yang membuat lagu ini menjadi bernyawa, dan White Shoes & The Couples Company bermusik dengan arransemen pimpinan Oele Pattiselanno. kata Aprilia Apsari vokalis WSATCC

“Kisah dari Selatan Jakarta”, lagu ini di ciptakan oleh oomleo, khusus untuk White Shoes & The Couples Company. Saya sangat menikmati waktu-waktu “nongkrong” bermain musik dengan oomleo, kami bisa seharian memainkan musik apa saja hanya dengan sebuah gitar akustik namun tidak pernah selesai hingga akhir lagu, kecuali untuk lagu-lagu Ismail Marzuki, kami bisa dibilang fans berat. Lagu ini memiliki pengaruh Ismail Marzuki yang sangat kuat, maka itu White Shoes & The Couples Company dengan senang hati menyertakan lagu ini didalam Album Vakansi.

“Ye Good Ol’ Days”, Lagu ini dibuat oleh Ade Firza Paloh, lead vocal dari band SORE. Suatu hari Ade memperkenalkan lagu ini kepada saya dan teman-teman seusai latihan di sebuah studio dimana banyak band-band dari Aksara Records berkumpul. Ade mengatakan lagu ini sengaja ditulis untuk White Shoes & The Couples Company, karena yang menyanyikan enaknya adalah vokal perempuan, Ade pun memberi kebebasan kepada White Shoes & The Couples Company. Awalnya sepertinya sulit, namun setelah itu kami coba dan kami suka sekali dengan hasilnya.

”Matahari”, Lagu ini pada dasarnya di buat oleh Saleh Husein, lead gitar dari White Shoes & The Couples Company, namun liriknya dibuat khusus oleh David Tarigan secara spontan. Lirik ditulis ketika kita akan take vokal didalam studio, proses rekaman yang begitu menyenangkan, karena bernyayi beramai-ramai tanpa beban sama sekali. Saya sengaja menguatkan aksen lokal Indonesia saya ketika berbahasa inggris karena David bilang terdengar lebih eksotis, karena lagu ini inspirasinya dari Indonesia belahan Timur, jadi vokalnya mesti eksotis, seperti layaknya Miriam Makeba dengan sangat anggun menyanyikan lagu-lagu indah berbahasa Inggris dengan lidah Afrika-nya.

“Selangkah Keseberang”, Lagu ini dalah lagu asli dari Fariz RM. Awal pertemuan dengan Oom Fariz (begitulah kami biasa menyebut beliau) adalah ketika Oom Fariz mengundang White Shoes & The Couples Company untuk tampil bersama di konsernya di Rolling Stone Indonesia. Kami membawakan dua buah lagu ketika itu, dan salah satunya adalah lagu ini. Saya pikir orang sudah jarang membuat lagu seperti ini, isinya sarat keoptimisan dan mampu membangkitkan gairah pemuda untuk melangkah maju, paling tidak mampu membakar semangat saya. Jika memiliki dampak seperti ini pada saya , saya rasa tidak mustahil dampaknya juga kemungkinan sama kepada orang lain yang mendengarkannya”. kata Aprilia Apsari, vokalis WSATCC.

Sekian dulu dari saya, Selamat bervakansi bersama White Shoes & The Couples Company.

Follow TJ on Twitter @TravelJunkieID

Hiking with Grandmom

Traveljunkieindonesia.com – My best friend Fandhi and his grandmom loves to hike. Whether it’s a forest jungle, mountain, volcano, or glacier – he’s done it. I love looking at their photos. I love hearing their re-tell adventures in their own words, finding out what kind of things make an impression on them.

We love Papua and Indonesia.

I also want to climb Mount Fuji (Japan) and South Pole before I die.

Follow TJ on Twitter @TravelJunkieID

of Bees and Mist by Erick Setiawan

From Goodreads:

“Of Bees and Mist is an engrossing fable that chronicles three generations of women under one family tree and places them in a mythical town where spirits and spells, witchcraft and demons, and prophets and clairvoyance are an everyday reality.

Meridia grows up in a lonely home until she falls in love with Daniel at age sixteen. Soon, they marry, and Meridia can finally escape to live with her charming husband’s family—unaware that they harbor dark mysteries of their own. As Meridia struggles to embrace her life as a young bride, she discovers long-kept secrets about her own past as well as shocking truths about her new family that push her love, courage, and sanity to the brink.

Erick Setiawan’s astonishing debut is a richly atmospheric and tumultuous ride of hope and heartbreak that is altogether touching, truthful, and memorable.”

Traveljunkieindonesia.com – This book is a bit of a mystery to me on traveling. Not in a bad way, but in a very good way. While it is an intriguing story mostly of two women. Meridia who grew up with strange mists and Eva, Meridia’s eventual in-law who seems to be able to conjure bees from incessant and nasty speech. However it is mostly Meridia’s story we follow. Within her mind we encounter a great many metaphors. This is part of the books magic. Sometimes we, as readers, are unable to tell the real from illusion, magic from metaphor. While in some books this could become quite maddening, actually it becomes more of a lyrical poem. In some ways it was fun for me to see if it was all in Meridia’s outlook on life, or if there really was some sort of magic in play. For example, sometimes the other characters would participate within the metaphor and acknowledge it, and other times it seemed as nothing more than an illusion.

This book is also about family, betrayal, forgiveness, making the wrong and right choices, inner-strength, and weakness. Erick Setiawan paints all this with a beautiful flourish. It not only makes it interesting, but emotional as well. I even found Eva interesting. A character that does nothing but manipulate and lie usually does not interest me at all. However, within the prose you find yourself wondering what is going to happen to this character and how many of those characters you have met in your life. In my case, I have known a few. Now, I may silently smile to myself as I see bees fly out of their mouth stinging those around them.

Oh I could go on, but I don’t want to spoil anything. I encourage you to try this book. I’ve given this book 4.5 stars. Erick writes a story of mostly women very well. Also, examine the book cover if you get a chance. You’ll find small objects in within the roses that are within the story. You can examine some of those same pictures at his blog: ofbeesandmist

Follow TJ on Twitter @TravelJunkieID