Turtle Conservation and Education Center (TCEC) Pulau Serangan

Traveljunkieindonesia.com – Kepala Pusat Pendidikan dan Konservasi Penyu atau Turtle Conservation and Education Center (TCEC) di Pulau Serangan, Bali, Wayan Geriya mengungkapkan pihaknya masih membutuhkan sarana promosi untuk bisa mengangkat usahanya supaya bisa memakmurkan para nelayan yang diberi tugas untuk menangkap telur penyu di delapan titik penangkaran se-Bali.

“Hanya sebagian kecil masyarakat pecinta lingkungan saja yang tahu kalau kami ingin melestarikan penyu agar tidak musnah,” ujar Wayan ketika ditemui di pusat konservasinya, Sabtu (29/01/11).

Lebih lanjut Wayan mengungkapkan, promosi yang selama ini telah dilakukan hanya dari mulut ke mulut, memberi penyuluhan ke sekolah-sekolah, dan di bantu beberapa blogger Bali. Dirinya tidak mampu kalau melakukan promosi seperti beriklan di media cetak atau elektronik, membuat buklet untuk di sebar ke hotel-hotel atau tempat wisata.

Padahal, lanjutnya, apabila konservasinya dikenal banyak orang, daerahnya bisa dijadikan tempat wisata yang sekaligus akan mendapatkan pendapatan di sektor kepariwisataan selain obyek-obyek yang sebelumnya telah ada terlebih dahulu.

“Bagaimana melihat proses penetasan penyu dari telor ke tuke (anak penyu) itu yang menarik,” lanjutnya.

Pusat Pendidikan dan Konservasi Penyu Sarangan memang belum lama berdiri. Didirikan oleh para tokoh lingkungan dengn didukung WWF, dan pemda Bali, yang menganggap perlu adanya pelestasian penyu mengingat selama ini banyak masyarakat yang mengambilnya dari alam secara besar-besarnya untuk keperluan upacara adat.

“Ada misi ekonomi tentunya tempat ini menjadi obyek wisata, turis-turis dadang kesini. Peran edukasi, ekologi konservasi dan ekonomi, berjalan secara berbarengan.”, [Wayan Geria, Ketua Konservasi]

Pusat konservasi itu telah menghimpun para nelayan di delapan titik diantaranya Negara, Kuta, Buleleng, Klungkung, untuk mencari telur penyu. Pusat konservasi akan memberikan upah Rp 500 ribu per sarang untuk kemudian disetorkannya untuk ditetaskan telurnya. Penyu setelah berumur 3 bulan, dijual ke wisatawan untuk kemudian dilepaskan secara beramai-ramai ke pantai.

Turtle Conservation and Education Center (TCEC) | Jl Tukad Wisata No. 4 Kelurahan Serangan, Denpasar | Telp. 0361-8577881, 081236127202 | Email. info.tcec@gmail.com.

Committed by Elizabeth Gilbert

Traveljunkieindonesia.com – Elizabeth Gilbert (Eat, Love, Pray) kembali mencari makna kehidupan dalam konteks jalinan cinta. Tapi Committed terasa lebih personal karena penulisan Gilbert yang lebih introspektif, terutama dengan hubungannya bersama Felipe, lelaki asal Brazil yang ia kenal di Bali, Indonesia. (“our vow never to marry had cloaked the two of us in all the emotional security we required in order to try once more at love”) dan upayanya mencari makna dari ajaran-ajaran orang bijak seperti Buddha (“the Buddha taught that only the celibate and the solitary can find enlightenment”).

Travel Junkie Indonesia merekomendasikan buku ini sebagai teman anda dalam traveling. Nikmati kata-per-kata tulisan Gilbert dengan sentuhan angin sejuk pegunungan, akan membuat Anda masuk ke dalam cerita dan menjadi tokoh sesungguhnya.

Yap, traveler cinta buku!

Follow TJ on Twitter @TravelJunkieID

Explore Indonesia From Merauke To Sabang

Traveljunkieindonesia.comBlog posting kali ini adalah artikel untuk Majalah diRadio Hardrock Radio Bali, edisi 8 Jan-Feb 2011. Yang pasti saya sangat senang karena majalah diRadio edisi 8 ini terbit pas di tanggal unik 11111.  Dan, tentunya saya senang bisa menyebarkan virus “Explore Indonesia” untuk pembaca diRadio. Berikut artikelnya:

Explore Indonesia Dari Merauke Sampai Sabang

Coba riset kecil-kecilan, tanya teman-teman kantor di kanan-kiri Anda, atau bahkan orang random yang papasan di jalan. Pertanyaannya, “Anda tahu Raja Ampat, pulau Togian, pulau weh. dimana sih?” Saya hampir 100% yakin, jawabannya tidak akan jauh-jauh dari “ga”, “dimana tuh”, “deket Bali”, sampai “melompong”.

Saya penasaran dan coba tanya lagi. Kali ini, saya cari bule-bule. Pertanyaan masih sama, “Anda tahu Raja Ampat, pulau Togian, Kakaban, pulau weh. Dimana sih?” wow, sungguh mengagumkan jawaban dari mereka. Misalnya, Mark, bule asal Denmark, “Raja Ampat itu surga dunia. Semuanya eksotis disana.” Atau, si Joana, bule asal Prancis, yang sudah empat bulan tinggal di Bali. “Pulau Togian itu di Sulawesi  bukan, itu ada di dalam list trip saya. Indonesia itu besar, butuh setahun saya untuk mengelilinginya hahaha… Tapi ya, di sini lah surga dunia sesungguhnya, biru, hijau, jingga, coklat, eksotis dan biaya hidup murah.”

Saya bukan ahli masalah pariwisata. Saya juga bukan orang dinas pariwisata. Tapi, logikanya, kalau masyarakat Indonesianya saja tidak tahu apa yang dimilikinya, bagaimana bisa mencintainya. Dan, Saya akan selalu bilang “Why would you go to other countries when the real paradise is right here?” Berikut adalah enam tempat dari favorit saya “Dari Merauke sampai  Sabang”.

Continue Reading

Waterbom Bali – It’s A Great Day!

Traveljunkieindonesia.com – Exciting water slides slice through 3.8 hectares of landscaped tropical parks providing hours of fun and entertainment for the young and young at heart! There are 101 ways to fill 24 hours each day with thrilling activities on land and in water. For relaxation, drift leisurely in a tube raft or go for a tranquil dip in inviting blue pools. A soothing massage or spa treatment is the ultimate way to unwind.

Set your own pace for a day of fun in the sun or relaxation in the shade; perfect for the whole family or for that special getaway. With a choice of dining outlets and a swim-up bar for tropical drinks, Waterbom Bali is the one-stop leisure capital of Bali.

Continue Reading

Harris Hotel & Residences – Riverview Kuta Bali

Traveljunkieindonesia.com – Harris hotels & resorts yang begitu populer dengan tagline “simple, unique, friendly”. Hadir di Bali dengan tiga lokasi yang berbeda yaitu Tuban Bali, Kuta Beach Bali, dan Riverview Kuta Bali.

Kembali, orang-orang yang sangat keren di Tauzia Hotel Management mensponsori akomodasi Travel Junkie Indonesia untuk stay. Tapi kali ini Harris hotel & residences – Riverview Kuta Bali, menjadi pilihannya.

Harris Riverview Kuta memiliki letak yang sangat strategis. Hanya 10-15 menit berkendara dari Legian Shopping Center, Pantai Kuta, dan Ngurah Rai International Airport. Dan, 18 menit berkendara dari Seminyak dan Petitenget yang terkenal dengan deretan butik milik desainer, galeri, restoran elit, serta klub yang hip.

Harris Hotel & Residences Riverview Kuta memiliki 135 rooms & residences dengan desain arsitektur hi-end yang eksklusif. 50 Rooms of Harris Room, 66 Rooms Residences 1 Bedroom, 24 Unit Residences 2 Bedroom, 7 Unit Meeting Room, 4 Unit Swimming Pool, Harris Café dengan kapasitas 160 Seats, Harrissimo specialist Italian cuisine dengan kapasitas 60 Seats, Juice Bar, Dino Kids Club, Business Corner, Free Wifi, Free Shuttle Service ke Kuta Area, dan H’Spa & Happy Feet Reflexology. Semua itu dipadankan dengan ciri khas warna Harris Orange, hijau, dan putih. Hasilnya, sebuah kebahagian alami dalam balutan modern yang merefleksikan kenyamanan Pulau Dewata.

Harris Hotel & Residences Riverview Kuta adalah tempat yang menarik untuk bermalam. Hotel ini sesuai bagi pasangan, liburan keluarga, liburan romantis atau perjalanan bisnis dan tentunya bagi para travel junkie seperti saya 🙂

Jl. Raya Kuta 62A Bali
+62 361 761 007
www.harris-riverview-bali.com
Follow on twitter @HarrisRiverview

Postcards from Gunung Batur Bali

Traveljunkieindonesia.com – Saya memang belum pernah merayakan tahun baru diatas gunung. Dan, mungkin ini tidak akan pernah terjadi kalau tidak ada ajakan dari Waizly D. Rada males untuk naik gunung tinggi di musim hujan, maunya gunung yang cantik saja hoax! Tak ada plan untuk menaikin gunung Batur di tahun baru 2011 ini. Tiba-tiba Waizly telepon saya “Oi, Naik gunung Batur yuk bareng Doddy temen gw di Singapore?” dan saya langsung jawab Hayooooo…

Jadilah kita berangkat ke gunung Batur berdelapan orang. Waizly, Tara, Doddy n the gang, Ronnie (Travel Junkie Colombia) dan saya sendiri. “Kalo jalan di Bali kaya gini asikan dengerin lagu-lagu Guruh Gipsy nih”, ujar Waizly. Yup bener sekali! ngetrip keliling Bali paling asik dengerin Guruh Gipsy. Band ini termasuk kelompok musik jenius legendaris di Tanah Air. Album mereka satu-satunya yang dirilis pada masa itu, yang melejitkan komposisi Chopin Larung, Janger 1897 Saka atau Smaradhana dianggap memuat aransemen progresif yang sangat jenius. Di mana mereka melebur elemen gamelan Bali serta orkestra ke dalam musik rock. Album ini dipuji di mana-mana. Bahkan hingga ke mancanegara. Ugh, Indonesia butuh banyak musisi baru seperti Guruh Gipsy sekarang ini 🙂

Okeh, kita balik lagi ke Gunung Batur! Gunung Batur sendiri sebuah gunung berapi aktif di Kecamatan Kintamani, Kabupaten Bangli, Bali, Indonesia. Terletak di barat laut Gunung Agung, gunung ini memiliki kaldera berukuran 13,8 x 10 km dan merupakan salah satu yang terbesar dan terindah di dunia (van Bemmelen, 1949). Pematang kaldera tingginya berkisar antara 1267 m – 2152 m (puncak G. Abang). Di dalam kaldera I terbentuk kaldera II yang berbentuk melingkar dengan garis tengah lebih kurang 7 km. Dasar kaldera II terletak antara 120 – 300 m lebih rendah dari Undak Kintamani (dasar Kaldera I). Di dalam kaldera tersebut terdapat danau yang berbentuk bulan sabit yang menempati bagian tenggara yang panjangnya sekitar 7,5 km, lebar maksimum 2,5 km, kelilingnya sekitar 22 km dan luasnya sekitar 16 km2 yang yang dinamakan Danau Batur. Kaldera Gunung Batur diperkirakan terbentuk akibat dua letusan besar, 29.300 dan 20.150 tahun yang lalu.

Setelah menikmati keindahan Bali dari atas awan, Tour guide kami mengajak kembali turun. Bukan gunung Batur ingin meletus tapi memang sudah waktunya untuk turun hahaha… sesampainya dibawah, kami berpisah dengan Doddy n the gang. Meraka lanjut berendam menikmati hangatnya air panas gunung Batur. Dan, kami berempat lanjut menuju Tapak Siring, Ubud, dan bersandar di Spa kawasan Sunset Road Kuta. Lalu, Zzzzz…zzzz…zz… tepar!

My White Christmas

Christmas Eve Day – 10.00 am. This is me, by myself, sitting on the beach and created “I love Bowo” 😀

Christmas Eve Day – 01.00 pm. The weather was very hot and humid. This is me, by myself, sleeping on the beach. The sun was just setting, the water was gloriously warm, and I love Indonesia.

Christmas Eve Day – 08.00 pm. Dinner with friends on my side. Fish, Gong-gong, crayfish and prawns and various salads.

It was buffet style, and of course, I ate too much & enjoyed the moon 🙂

Happy Green Travels!

Follow us on Twitter @TravelJunkieID & like us on Facebook.

Pop! Harris Hotel: a place to stay smart and eco-friendly travellers

Traveljunkieindonesia.com – Saya punya berita yang sangat Pop! Weekend ini, Travel Junkie Indonesia bergaya pop semua klop!

Orang-orang yang sangat keren di Tauzia Hotel Management mensponsori akomodasi Travel Junkie Indonesia untuk stay di Pop! Harris hotel – a place to stay smart and eco-friendly travellers.

Pop! ini adalah terobosan mutakhir yang dilakukan grup Harris untuk menarget segmen eco-traveler. Smart dan eco-friendly menjadi prinsip utama yang dianut Pop!. Beberapa innovasinya adalah penggunaan solar power, shower pod, dan eco-friendly construction materials di setiap kamar dan pemakaian sistem air daur ulang guna mengurangi konsumsi air.

Fasilitas bagi tamu mencakup free WiFi, televisi kabel, mesin penjual makanan dan minuman.Disamping itu semua, yang membuat saya betah berada di dalam kamar tamu berukuran 16 m2 itu adalah TAUZIA king size bed yang dibuat secara eksklusif oleh King Koil, 100% cotton linen, tempat tidur ke 3 yang nyaman bagi anggota keluarga atau teman. Dan, sebuah shower pod berbentuk kapsul yang inovatif siap membawa kita berasa di dalam pesawat appollo ketika mandi 🙂

Harga untuk 1, 2 atau 3 orang, SATU HARGA Untuk SEMUA! Yes, small budget high impact. Pop! memang ditujukan kepada travellers yang memiliki jiwa muda yang mengerti keinginan dan memilih hotel sesuai dengan gaya dan nilai-nilai yang mereka anut. Dan, tentunya sesuai dengan budget yang mereka miliki.

Setelah Pop! Bali, pengelola berencana melebarkan sayap hotel trendi ini ke Manado, Surabaya, Yogyakarta, dan Jakarta. Wow, Indonesia makin Pop!

Pop! Harris Hotel – Jl. Teuku Umar No.74, Denpasar, Bali, T.0361 258 025.

Informasi detail klik www.popharris.com

Follow TJ on Twitter @TravelJunkieID hashtag #PopHarrisHotel

Bali’s Best Kept Secret

Bali, Traveljunkieindonesia.com – Many say Bali has everything a tourist could ever want — beautiful scenery, exotic culture and plenty of sunshine — but those coming to Indonesia’s most famous island for a peaceful getaway may find themselves disappointed. Finding a quiet place on the Island of the Gods is not an easy task. Due to rapid development, hotels and resorts have already infiltrated many of Bali’s best and most remote locations.

Last month, I visited the island for the fourth time this year.

Having already been to all the popular locations such as Kuta and Ubud, this time I just wanted to chill out on a white sandy beach and read a good book without being disturbed.

Lucky for me, I had a tour guide on my last trip — my friend Bowie Holiday, who lives in Bali but proudly calls himself a backpacker —who was able to help me find just what I needed.

Bowie’s love of traveling has already taken him to remote places in Sumatra, Java, Western and Nusa Tenggara, Borneo and Papua.

“I want to go to the most beautiful beach in Bali, a place that most tourists still don’t know about,” I told him when he asked where I wanted to spend my holiday.

“Then we must go to Menjangan Island,” he said, with a smile.

Located about 10 kilometers north of Gilimanuk Harbor in northwestern Bali, Menjangan is a 175-hectare island, which is part of the West Bali National Park.

The journey from Denpasar to Labuhan Lalang, a small traditional port that connects tourists to Menjangan Island, takes around four to five hours.

We arrived at the port around 4:30 p.m. and although we felt exhausted after hours of driving, we decided to get on the boat immediately so as not to miss the sunset.

It cost us around Rp 300,000 ($33) to go to the island on a traditional boat. The boat, which can fit up to 10 people, can wait around three to five hours while you and your friends explore the island.

Bowie’s promise of undiscovered beauty proved true. When we finally arrived on the island 30 minutes later, there was only one boat tied to a small dock and several foreign tourists hanging out on the beach.

Besides its natural beauty, the island is also home to a unique species of deer, called Menjangan, for which the island was named.

Those wanting to soak up a bit of culture as well as sun can visit some of the Hindu temples on the island, including Kelenting Sari and Segara Giri.

There is also a large statue of Ganesha, the Hindu god with a human body and an elephant head, which was recently erected on the island.

Bowie and I decided to spend an extra Rp 150,000 on two snorkeling masks and two pairs of fins.

Bowie assured me that going to Menjangan Island wouldn’t be complete without enjoying the beauty of its coral reefs and fish.

Accompanied by our guide, Bowie and I were in the water within minutes.

You don’t have to dive very deep to be immersed in Menjangan’s marine beauty.

As I was floating in the water, I could clearly see the coral reef and a plethora of colorful fish.

Not wanting to let me miss anything, Bowie eagerly pointed out each interesting thing he saw.

At one point, he showed me a group of small yellow fish with black and blue stripes.

The best moment came after our swim, when we decided to simply lay on the pure white sand, look straight at the sun and do nothing.

Bowie assured me that it was the best way to enjoy the sunset.

Half asleep and completely relaxed, I tried to focus on the sunset and forget all the stress I had brought with me from Jakarta.

As if he knew exactly what I was thinking, Bowie said, “Don’t go back to Jakarta. You should live here.”

‘I want to go to the most beautiful beach in Bali, a place that most tourists still don’t know about.’ (Tasa Nugraza Barley)

Artikel ini dimuat oleh koran Jakarta Globe pada tanggal 8 Desember, 2010. @thejakartaglobe: Bali’s Best Kept Secret http://bit.ly/gUQdM5

Follow TJ on Twitter @TravelJunkieID

Tips & Reasons Rent A Motorbike in Indonesia Trip

Traveljunkieindonesia.com – Let’s ride like an Indonesian. I love ride motorbike to explore Bali, Lombok, Sumbawa, Sumba, East Nusa Tenggara and West Timor. As long as you know how to drive a car, renting a motorbike is perhaps one of the best and most convenient ways to explore Indonesia.

So here I present, 10 Tips & Reasons Rent A Motorbike in Indonesia Trip:

1. I found Indonesia to be very motorbike friendly. Always wear a helmet and if the rental doesn’t provide one, move onto the next store.

2. Bargain if you can, especially if there’s more then one of you and if it’s for a few days.

3. If the rental owner seems to be taking extreme notes of the condition of the bike before you take it on the road, be wary. They could be picky on every little itty bitty detail and may charge you a big number upon return for the most ridicules things.

Continue Reading