Moment of Reflection

Traveljunkieindonesia.com – We love Bali. On the weekend, I took walk by the sea with my friends.I needed to stretch my legs and I needed some stillness.

My friends danced around the shore, collecting pebbles and drawing in the sand. It was a gorgeous morning for reflection.

Perfect for recharging my soul. Remembering that no matter what happens, life is what I make of it.

Follow TJ on Twitter an instagram @TravelJunkieID

Pantai Kuta Berpasir Merica

Traveljunkieindonesia.com – Pantai Kuta, Pantai yang menghadap “Laut Selatan” itu berada di wilayah  Desa Kuta, Kabupaten  Lombok Tengah. Jarak antara Kota Mataram, Ibukota Provinsi NTB, dengan Pantai Kuta sekitar 70 kilometer.

Jika dibandingkan, Pantai Kuta di Pulau Bali dengan Pantai Kuta di Pulau Lombok, masing-masing memiliki kekhasan sendiri-sendiri. Suasana pedesaan di Pantai Kuta di Pulau Lombok, masih sangat kental. Rumah-rumah tradisional Sasak nan simple, mudah dijumpai di kawasan ini. Masyarakat Sasak yang tinggal di sekitar Pantai Kuta Lombok yang hidup dari bertani, beternak, menangkap ikan dan membuat kain tenun, sangat mewarnai irama kehidupan di kawasan ini. Menurut saya sebagai Travel Junkie yang sering pergi ke pantai, Pantai Kuta di Lombok jauh lebih menawan dan private dibandingkan Pantai Kuta di Bali. Disini, kita bisa sedikit bernaturist adventures 🙂

Pantai Kuta di Lombok selama ini juga dijuluki dengan Pantai Merica. Alasannya, menurut warga setempat, karena pantai ini dikenal pasirnya yang putih kekuningan seperti butiran-butiran merica.

Butiran pasir berbentuk merica itu jika diinjak, kaki terasa tenggelam, susah diangkat untuk melangkah. Banyak wisatawan yang berkunjung ke Pantai Kuta mengambilnya  untuk oleh-oleh. Kalau ngambil jangan banyak-banyak ya, takut abis pasirnya!

Selain main pasir putih, traveler juga dapat sunbathing sambil baca buku dan berenang di bagian tepi laut sambil bercumbu dengan kekasih. Ah romantis benerrrr…

Para Travel Junkies  yang ingin menikmati keindahan pantai dari perairan dapat menyewa perahu, sementara yang ingin berselancar ada juga yang menyewakan papan selancar.  Kalau bawa sendiri seperti bule-bule itu lebih baik 🙂

Follow TJ on Twitter @TravelJunkieID

Cheers, UK! by @CitraDP (Citra Dyah Prastuti)

Traveljunkieindonesia.com – Aha, ini nih buku perjalanan tentang Inggris, khususnya London. 100% Travel Junkie Indonesia sangat lah iri, iri, iri sama penulis buku ini yang bilang “UK boleh mahal tapi kenapa harus keluar uang kalo bisa gratisan? Hoho..” Kenapa iri? ya karena si penulis bisa Kuliah & Traveling GRATIS muter-muter negeri penuh CCTV ini. Berasa Artis kan lo jalan disana, tapi yang lebih penting dari itu buku ini dapat menjadi inspirasi bagi anak muda Indonesia yang ingin lanjut kuliah S2 ke UK dan jalan-jalan gratis tentunya 😀

Dalam buku ini, Citra dengan baik mengagendakan kegiatan traveling selama kunjungannya belajar di London, dia mengelilingi kota-kota di luar London di mana kisah perjalanannya menarik dan asik untuk disimak.

Bersama mahasiswa Indonesia lainnya yang juga sekolah di Inggris, Citra bervakansi mengunjungi tempat-tempat yang selama ini gambarnya cuma bisa dilihat di internet dan majalah traveling. Ketika mengunjungi suatu tempat, Citra menggambarkan bagaimana suasananya, apa saja yang menarik perhatiannya serta tips keuangan saat berbelanja di shopping area. Hal ini penting ya, mengingat Inggris adalah, kalau boleh mengutip Citra, “Negara serba mahal”. Dibandingkan Rupiah, tentu kurs Poudsterling akan mematok harga barang-barang jauh lebih mahal.

Untuk Travel Junkies yang berencana ke Inggris tapi kanker alias kantong kering akan sangat terbantu dengan membaca buku ini. Citra yang di sana bukan sebagai turis, melainkan mahasiswa, di mana pengeluaran akan banyak dihabiskan pada biaya hidup tentunya. Dan, harus pintar-pintar mengelola uang yang diberikan oleh pihak pemberi beasiswa. Pengelolaan di sini berarti, memasukkan agenda jalan-jalan, belanja serta hura-hura ke dalam list kegiatan selama sekian periode di Inggris 😀

Damn, buku ini asik buat dibaca pas lagi traveling. Apalagi bacanya sambil tidur-tiduran di atas pasir putih, angin sepoi-sepoi, dan birunya laut kepulauan Raja Ampat. Omigod! Bukunya Citra yang Cheers, UK! Saya rekomendasikan buat kamu yang ingin tinggal di London, UK, atau buat yang mau sekolah atau tinggal disana, boleh benerr… Citra ceritanya lumayan informatif. Dan, gaya ceritanya asik riang gembira! 😀

Semoga ada Departemen Pariwisata Negara mana gitu ngundang  atau ngasih beasiswa kepada Travel Junkie Indonesia ini. Nanti, saya akan nulis tentang negaranya. Ya 11-12 lah sama cheers, UK-nya Citra! AMIEN! 😀

Mau tau detail kisah Citra Dyah Prastuti, termasuk tips and trik selama kuliah atau traveling ke UK? Yuk beli bukunya di toko-toko buku terdekat kota mu ya…

blognya Citra | Twitternya Citra

Follow TJ on Twitter @TravelJunkieID

Menjangan, Pulau Eksotis Bali Barat

Menjangan Island, Bali (Image courtesy of Azis Abdullah)

Traveljunkieindonesia.com – Malam itu terang rembulan, saya dan teman travel junkies memutuskan untuk diving dan snorkling besok pagi di Pulau Menjangan, Bali. Melipirlah kita dengan skuter cantik di subuh buta. Damn! kita itu memang Travel Junkies. Pagi itu, Aktivitas di Labuhan Lalang sudah sibuk sejak pukul 7 untuk mengantarkan wisatawan diving, snorkling, dan sembahyang. Pulau Menjangan yang terletak di sebelah utara Bali Barat ini memang terkenal karena alam bawah lautnya yang indah. Hanya perlu 30 menit untuk sampai ke pulau terbesar di kawasan Taman Nasional Bali Barat itu. Namun, kami tidak berangkat dari Labuhan lalang, melainkan langsung ke dive center biar lebih murah sedikit. Dan, Sialnya kita lupa bawa kamera underwater untuk diving. Mau sewa mahal bow…

Pasir putih yang mengelilingi pulau Menjangan menjorok hingga ke dasar laut. Sandy Slope adalah situs penyelaman pertama. Hari itu, kejernihan air laut sangat luar biasa, jarak pandang bisa mencapai 25 meter. Dari atas kapal, coral cantik warna-warni dalam lautan bisa terlihat. Beruntung lah kami, alam saat itu memberikan sisi terbaiknya.

Sweetlips, Angelfish, Batfish merupakan salah satu dari sekian banyak spesies ikan penghuni bawah laut Menjangan. Begitupun Gorgonian sea fans, coral berbentuk kipas, adalah highlight pulau itu.

Menjangan Underwater (Image courtesy of Azis Abdullah)

Pura Gili Kencana di pulau Menjangan, memberikan sensasi yang berbeda. Dasar pasir putih, sudah tidak terlihat jelas seperti di penyelaman pertama tapi sebagai gantinya, coral garden dengan anekaragam hard dan soft coral, menghiasi taman bawah laut itu. Tak jauh dari situ, tampak coral wall yang menjulang hingga kedalaman 30 meter. Rangkaian bunga coral di dinding dengan sedikit arus membawa kami seakan terbang bebas menyaksikan keindahan bawah laut bagaikan film yang berjalan.

Eksotisme pulau Menjangan tidak hanya berakhir di keindahan bawah lautnya saja, alam daratannya pun memiliki pesona keajaiban tersendiri. Pulau Menjangan diambil dari kata Menjangan, yaitu rusa besar yang menjadi penghuni tetap di sana. Habitat mereka dilindungi oleh pemerintah dan termasuk dalam kawanan Taman Nasional Bali Barat.

Untuk menjaga keseimbangan pulau tersebut, kaum Hindu Bali mendirikan Pura di sana. Ada tiga Pura, Pura Gili Kencana yang merupakan salah satu Pura tertua di Bali, Pura Klenting Sari, dan Pura Segara Sigi. Di salah satu Pura itu, terdapat patung Ganesha yang berdiri kokoh menghadap ke laut menjaga keadaan di sana.

Begitu banyak kekayaan alam di Bali Barat tapi jika tidak dirawat kemungkinan kekayaan itu akan hilang. ASiknya penduduk lokal dan pemerintah mengerti akan hal itu, tinggal kami para travel junkies yang harus sadar untuk tetap menjaga lingkungan.

Rekomendasi Dive Center: Disthiscuba Discover West Bali | P. +6281337664214, +628283722673

Follow TJ on Twitter @TravelJunkieID

Travel Junkie Indonesia Return Ticket To The Moon

Traveljunkieindonesia.com – Traveling ke Gili Trawangan tidak membeli tiket ke Bulan bagaikan “makan sayur asem tanpa ikan asin”. Menikmati Magic Mushroom bersama teman-teman di bawah kerlap-kerlip bintang, suara debur ombak, angin semilir merupakan hal yang mewah.

Follow TJ on Twitter @TravelJunkieID

Kalibukbuk, Dolphins, Friends

Traveljunkieindonesia.com – Perjalanan kali ini mengendarai sepeda motor bersama Amel Meilan dimulai dari Jimbaran menuju Pulau Menjangan untuk diving, dan bermalam di Kalibukbuk yang lebih dikenal dengan panggilan Lovina. Ok kali ini akan membahas Lovina, kawasan wisata Lovina itu terletak di bagian utara pulau Bali, kira-kira 3,5 jam perjalanan dari kawasan Kuta bersepeda motor. Pantai ini terkenal akan dolphins di pagi hari.

Berkunjung ke Lovina sebenarnya sudah tak terhitung lagi, terkadang kalau sedang buntu mencari ide kreatif saya suka kabur mengasingkan diri ke Harris Homestay. Beliau pria paruh baya keturunan chinese Surabaya yang sudah tinggal di bali sejak masih muda. “Harris” cukup namanya saja saya memanggilnya, dia tidak mau dipanggil dengan “Pak Harris” kelakarnya. Harris tinggal bersama istrinya yang WNA Jerman dan dikaruniai seorang putra yang tampan dengan wajah indonya. Mereka tinggal menjadi satu dengan Homestay miliknya, itu lah asiknya menginap disana. Kenapa? Karena berasa seperti di rumah sendiri. Mereka akan memperlakukan Anda bukan seperti tamu tapi seperti keluarga, orang tua kepada anak, dan teman.

Perjalanan untuk melihat aksi Dolphins ini dimulai pada pagi hari, tinggal bilang ke Harris “besok pagi saya mau liat dolphin”, beliau langsung menelpon si bapak yang akan membawa kita lihat dolphins besok paginya. Harga hanya Rp.30-ribuan, dijamin pengalaman menikmati aksi lumba-lumba itu akan menyenangkan. Tapi jangan terkejut seandainya mereka juga tidak muncul. Kadang-kadang itu bisa terjadi juga.

Untuk menginap di Harris Homestay bisa langsung kontak Harris di telp (0362) 41152   |   Harga: Rp 50 ribu – Rp 120 ribu

Follow TJ on Twitter @TravelJunkieID

Penikmat Lingerie Show itu Semua Usia

Traveljunkieindonesia.com – Menghadiri undangan Fashion Show itu memiliki keasikan sendiri. Tapi, datang ke Lingerie Show itu memiliki sensasi baru untuk seorang traveler seperti saya. Dan, ternyata event ini tidak hanya dihadiri blogger, social media, dan wartawan. Terlihat anak kecil juga sangat menikmati Lingerie Show, mungkin beliau mewakili salah satu fashion blogger/social media cilik.  Hebat zaman New Wave ini!

Salam Travel Junkie Indonesia

Follow TJ on Twitter @TravelJunkieID

The Travel Junkie & Marketing To Netizen

Bali, Traveljunkieindonesia.com – Youhou pagi ini Travel Junkie Indonesia di telepon oleh Marketeers untuk ikut menghadiri acara Marketeers Dinner seminar Roadshow “Marketing to Netizen”, Senin, (1/11/2010) pukul 18.00 s.d. 21.30 WIB di Gedung BPR Lestari / Kampus MIM, Denpasar.

Marketeers Dinner Seminar dengan tema “”, menampilkan Hermawan Kartajaya sebagai pemateri utama. Pak Hermawan Kartajaya memaparkan, informasi mengenai profil psikografis pengguna internet di Indonesia, termasuk dengan perkembangan fenomena gaya hidup Netizen, berdasarkan temuan riset di lapangan mengenai “Netizen Indonesia 2010: Attitude and Behavior”.

Continue Reading →

Menyelam di Waigeo, Raja Ampat? Pasti mengesankan!

Traveljunkieindonesia.com – Tidak lengkap tentunya berkunjung ke Raja Ampat dan tidak menyelami keindahan bawah lautnya. Meskipun pesona di atas permukaan air tidak kalah memukau, bagaimanapun juga Raja Ampat dikenal sampai mancanegara sebagai surga bawah laut.

Di divesite Myoskon kita dapat diving baik pada pagi hari maupun malam hari dan melihat perbedaan suasananya. Terumbu karang cantik dan padat mayoritas tidak berpindah namun pada malam hari lautan terlihat lebih lenggang dari ikan-ikan yang biasa berseliweran pada pagi hari. Gantinya beberapa terumbu karang yang tidak tampak pada siang hari mulai muncul di waktu gelap seperti Orange Tube Coral yang tampak mencolok di malam hari dengan warna oranye, atau si Sea Pen yang berbentuk seperti daun berbulu berwarna cokelat.

Pada dive pertama saya di Raja Ampat, tanggal 16 Oktober 2010, saya langsung berjumpa dengan hiu Wobbegong di Myoskon. Mungkin mendengar kata hiu akan membuat sebagian besar orang merasa tegang tapi kalau melihatnya seperti saya waktu itu pasti akan berkomentar sama, lucu! Mulutnya yang pipih dengan aksen seperti rumbai-rumbai akar disandarkannya di atas batu, dan tampak sedang tidur malas. Tampak sangat imut dan tidak berdaya. Memang si Wobbegong yang berbentuk pipih ini senang melipir di dasar lautan dan bermotif mirip karpet pula makanya disebut sebagai carpet shark (hiu karpet).

Bila kita melihatnya tidak perlu takut, sama seperti kebanyakan satwa laut lain, mereka tidak akan menggigit  kecuali merasa terganggu seperti misalnya terinjak oleh kita. Sedikit paradoks mengingat sebutannya adalah hiu karpet. Setelah pertemuan pertama itu, 2x dive berikut saya berjumpa lagi dengan Wobbegong yang lain. 3x bertemu Wobbegong dalam 3x dive! Tetapi tetap tidak membosankan.

Di divesite Manta Slope, sesuai dengan namanya, kita dapat bertemu si elegan Manta Ray. Gerakannya yang anggun seperti terbang dalam slow motion selalu mengagumkan untuk disaksikan. Banyak yang mengatakan bahwa pada musim tertentu, yaitu antara Oktober sampai Desember, kita akan dapat melihat 30 Manta Ray sekaligus di site ini. Mungkin karena itu juga si Manta menjadi maskot Raja Ampat sampai dibuatkan gedung pertemuan berbentuk pari di Waisai, ibukota Raja Ampat.

Bila senang melihat ikan dalam jumlah yang banyak, cobalah Cape Kri. Tidak lama setelah menyelam masuk ke air, kami disambut sekelompok barakuda sementara di sekitar kami penuh dengan ikan lain lalu lalang. Kebetulan saat itu sudah sedikit siang sehingga mungkin memang saatnya para ikan makan. Yang mengherankan, ikan-ikan tampak begitu tak acuh dengan kehadiran mahluk asing di antara mereka, kami para diver. Mereka cuek berenang sangat dekat dengan kami, melintas tepat di depan mata, kadang malah tampak seperti ingin menabrak saya. Kadang juga sedikit mengganggu karena tiba-tiba melintas tepat depan kamera padahal saya sedang berusaha mengambil obyek lain. Tapi sangat menyenangkan karena saya bukan dianggap sebagai manusia yang membuat mereka merasa terganggu. Bagi mereka saya hanyalah mahluk laut lain yang tidak mengancam. Rasanya seperti kehadiran saya diterima oleh para ikan. Menyenangkan.

Tiap penyelaman adalah pengalaman menarik yang berbeda satu sama lain. Namun satu kesimpulan yang saya yakini dari beberapa dive yang saya lakukan, tidak ada yang namanya diving buruk di Raja Ampat. Apakah diving dalam atau dangkal, pagi atau malam, air tenang atau berarus, di antara terumbu karang atau pasir yang diam-diam dihuni banyak satwa

Tidak lengkap tentunya berkunjung ke Raja Ampat dan tidak menyelami keindahan bawah lautnya. Meskipun pesona di atas permukaan air tidak kalah memukau, bagaimanapun juga Raja Ampat dikenal sampai mancanegara sebagai surga bawah laut.

Di divesite Myoskon kita dapat diving baik pada pagi hari maupun malam hari dan melihat perbedaan suasananya. Terumbu karang cantik dan padat mayoritas tidak berpindah namun pada malam hari lautan terlihat lebih lenggang dari ikan-ikan yang biasa berseliweran pada pagi hari. Gantinya beberapa terumbu karang yang tidak tampak pada siang hari mulai muncul di waktu gelap seperti Orange Tube Coral yang tampak mencolok di malam hari dengan warna oranye, atau si Sea Pen yang berbentuk seperti daun berbulu berwarna cokelat.

Pada dive pertama saya di Raja Ampat, tanggal 16 Oktober 2010, saya langsung berjumpa dengan hiu Wobbegong di Myoskon. Mungkin mendengar kata hiu akan membuat sebagian besar orang merasa tegang tapi kalau melihatnya seperti saya waktu itu pasti akan berkomentar sama, lucu! Mulutnya yang pipih dengan aksen seperti rumbai-rumbai akar disandarkannya di atas batu, dan tampak sedang tidur malas. Tampak sangat imut dan tidak berdaya. Memang si Wobbegong yang berbentuk pipih ini senang melipir di dasar lautan dan bermotif mirip karpet pula makanya disebut sebagai carpet shark (hiu karpet).

Bila kita melihatnya tidak perlu takut, sama seperti kebanyakan satwa laut lain, mereka tidak akan menggigit  kecuali merasa terganggu seperti misalnya terinjak oleh kita. Sedikit paradoks mengingat sebutannya adalah hiu karpet. Setelah pertemuan pertama itu, 2x dive berikut saya berjumpa lagi dengan Wobbegong yang lain. 3x bertemu Wobbegong dalam 3x dive! Tetapi tetap tidak membosankan.

Di divesite Manta Slope, sesuai dengan namanya, kita dapat bertemu si elegan Manta Ray. Gerakannya yang anggun seperti terbang dalam slow motion selalu mengagumkan untuk disaksikan. Banyak yang mengatakan bahwa pada musim tertentu, yaitu antara Oktober sampai Desember, kita akan dapat melihat 30 Manta Ray sekaligus di site ini. Mungkin karena itu juga si Manta menjadi maskot Raja Ampat sampai dibuatkan gedung pertemuan berbentuk pari di Waisai, ibukota Raja Ampat.

Bila senang melihat ikan dalam jumlah yang banyak, cobalah Cape Kri. Tidak lama setelah menyelam masuk ke air, kami disambut sekelompok barakuda sementara di sekitar kami penuh dengan ikan lain lalu lalang. Kebetulan saat itu sudah sedikit siang sehingga mungkin memang saatnya para ikan makan. Yang mengherankan, ikan-ikan tampak begitu tak acuh dengan kehadiran mahluk asing di antara mereka, kami para diver. Mereka cuek berenang sangat dekat dengan kami, melintas tepat di depan mata, kadang malah tampak seperti ingin menabrak saya. Kadang juga sedikit mengganggu karena tiba-tiba melintas tepat depan kamera padahal saya sedang berusaha mengambil obyek lain. Tapi sangat menyenangkan karena saya bukan dianggap sebagai manusia yang membuat mereka merasa terganggu. Bagi mereka saya hanyalah mahluk laut lain yang tidak mengancam. Rasanya seperti kehadiran saya diterima oleh para ikan. Menyenangkan.

Tiap penyelaman adalah pengalaman menarik yang berbeda satu sama lain. Namun satu kesimpulan yang saya yakini dari beberapa dive yang saya lakukan, tidak ada yang namanya diving buruk di Raja Ampat. Apakah diving dalam atau dangkal, pagi atau malam, air tenang atau berarus, di antara terumbu karang atau pasir yang diam-diam dihuni banyak satwa unik. Pasti akan menemukan sesuatu yang mengesankan di setiap penyelunik. (Kusumorini Susanto)

Contact the writer at Twitter @kusumorini & @TravelJunkieID

Masakan Nusantara Warung Bu Siti

Hi Warga DKI Jakarta, Kalian lapar???

Traveljunkieindonesia.com – Telah di Buka WARUNG BU SITI dengan aneka masakan tradisional Indonesia. Bermula dari mendalami, lalu memperkaya, hingga menurunkan berbagai resep masakan tradisional Indonesia kepada keluarga, Warung Bu Siti didirikan. Aneka makanan yang disajikan merupakan yang terbaik dari Nusantara. Tentu saja, resep-resepnya telah disempurnakan terlebih dahulu.

Bagi Anda penggemar makanan Nusantara, Warung Bu Siti ini sangatlah pas dilidah. Selain itu, Warung Bu Siti menerima pesanan seperti Tumpengan, Nasi Box untuk kantor, meeting, dan acara-acara lainnya loh…

Fast Track

Telp: Sigit (021) 94885284/7353656    |    Harga: Nego

Contact the writer at Twitter @TravelJunkieID