Let’s Talk About: Friendship, Love & Marriage, Ord-talk-about-inary Miracles

Traveljunkieindonesia.com – Let’s Talk About: Friendship, Love & Marriage, Ordinary Miracles adalah sebuah buku kumpulan kisah inspiratif. Ditulis oleh tiga penulis wanita yang saling bersahabat yaitu Retnadi Nur’aini, Airin Nisa, dan Shinta Anita. Buku ini terdiri atas empat bab: Friendship, Family Portrait, Love& Marriage, Ordinary Miracles, dan What I Know for Sure.

Buku ini sudah menemani saya traveling keliling Sumbawa. Teman yang asik untuk membaca buku ini adalah birunya langit, suara semilir angin pantai, birunya air laut, posisi tengkurep diatas pasir putih, dan disiram sinar matahari Indonesia. Tanpa teknologi semua semakin sempurna.

Di bab awal, Friendship, terdapat kisah seputar persahabatan yang kocak, akrab, dan membuat kagum akan loyalitas di antara mereka. Persahabatan bagi mereka dipengaruhi beberapa faktor. Di antaranya adalah faktor irisan pengalaman antarpribadi (field of experience). Semakin besar irisan itu, kian nyambung persahabatan. Faktor lain yang membangun persahabatan adalah toleransi, pemahaman satu sama lain, chemistry, dan tentu saja selera humor yang pas. Bukan semacam formula terjalinnya sebuah persahabatan, tapi paling tidak, faktor-faktor di ataslah yang membangun persahabatan mereka, dari awal hingga sekarang, dengan segala romantikanya.

Sementara di bab Family Portrait, mereka bertutur tentang kisah-kisah seputar “bidadari-bidadari” yang dicintai (dalam keluarga) dan impian menjadi orangtua. Orang-orang yang tidak kita sadari itulah yang selalu mencintai dan memberikan cinta tanpa kalkulasi untung rugi, sekaligus keteladanan dalam kehidupan bersama.

Dalam bab Love & Marriage, terdapat cerita tentang cinta yang selalu menarik untuk dibicarakan, pengkhianatan, idealisme pernikahan, sampai kehidupan pernikahan mereka sebagai pasangan muda. Love and Marriage, sebuah tema yang tak pernah habis untuk dibicarakan dan selalu saja menarik untuk disimak.

Buku ini juga berisi kisah-kisah sederhana yang setiap hari kita temui dalam kehidupan nyata, seperti tentang kecintaan akan hujan, suasana pagi hari, dan orang-orang sederhana yang mengajarkan kebaikan yang terangkum dalam bab Ordinary Miracles. Dan terakhir, ditutup dengan bab What I Know for Sure, seperti: bahwa pikiran adalah suatu pilihan, dekonstruksi reflektif horoskop, dan lain-lain.

Secara umum, buku ini berisi kumpulan tulisan penuh pelajaran hidup. Ringan tapi bermakna, dekat dengan kehidupan kita sehari-hari. Kami yakin, sesuatu yang berharga akan lebih bermakna bila bisa dibagikan dengan orang lain. Diharapkan pembaca dapat memetik inspirasi yang memperkaya jiwa, menjadi satu dari sekian banyak pelajaran yang ada dalam hidup kita.

Yuk baca buku ini, Travel Junkie Indonesia merekomendasikan buku ini sebagai teman Anda saat Traveling!

Penerbit : Halaman Moeka Publishing (021-7881850) | Harga : Rp.32.000,-

Follow him on Twitter @TravelJunkieID

Visit Banyuatis

Banyuatis, Traveljunkieindonesia.com – Untuk episode kali ini, saya akan membahas kota kecil nan cantik yang tak kalah dengan Ubud yaitu Banyuatis Munduk, Bali.

Saya sungguh amaze waktu menghadiri pernikahan seorang sahabat Dama sang make up artis di desanya Banyuatis. Bersama teman-teman yang asli orang Bali Adek, Oka, dan Aris yang menunjukkan tempat ini.  “Gila… Ubud sih ga ada apa-apanya sama Banyuatis” ujar saya saat tiba dan melihat indahnya Bali dari Banyuatis.  Makin kagum lagi saat tahu bahwa banyak spot-spot pariwisata yang bagus seperti mandi air panas, air terjun, hamparan sawah, hutan cengkeh, budaya lokal yang asik dan masih banyak lagi lainnya.

Saya langsung yakin tempat ini pasti akan menjadi salah satu penerima Kota terCANTIK dan terNYAMAN.  Tempat seperti ini sungguh perlu diangkat di televisi nasional secara populer sehingga memberi inspirasi bagi masyarakat lokal untuk turut membangun kota-kota kelahiran mereka.

Saat menyusuri Banyuatis, nyaman rasanya melihat Bali dari ketinggian yang sungguh menyenangkan.  Sekarang kalau perlu ide, saya menambah Banyuatis Munduk menjadi salah satu kota favorit untuk mencari ide kreatif saya.  Lalu Lombok, Karimunjawa, pastinya plus pulau Komodo, dan Banyuatis is on the list

Travel Junkie Indonesia menulis ini untuk memberi inspirasi bagi warga lokal Banyuatis untuk menjaga dan membangun tempat lahirnya dan berbangga telah lahir di salah satu surga dunia dan memberi dampak positif bagi sekitarnya maupun bagi Indonesia yang tercinta ini.

Ada desa atau kota yang layak diangkat Travel Junkie Indonesia? let me know…

Follow us on Twitter @TravelJunkieID

@WisataKita meriahkan Industri Pariwisata Indonesia dengan Kaos

Pulau Menjangang Bali, Traveljunkieindonesia.com – Hippi! Senangnya saya mendapatkan pergi menyusuri utara bali bersama wisatakita. Ternyata, saya pergi nggak sendiri, bersama saya ada beberapa Model wanita asal kota Solo & Yogya, dan Duta Pariwisata Pulau Karimunjawa mas Ridwan doank.

Saya pernah keliling Bali 5x dengan sepeda Motor untuk mempelajari kehidupan orang-orang Bali. Dan, ternyata setiap desa di Bali memiliki perbedaan mulai dari aksen bahasa, kepercayaan, dan adat istiadat, walaupun itu semua terlihat sama. Dan kali ini saya baru berkesempatan lagi pergi untuk menikmati Bali utara dan pulau Menjangan.

Di kesempatan ini, Wisatakita meluncurkan koleksi terbarunya kaos Indonesia wisatakita. Menurut mas Azis selaku pemilik wisatakita, peluncuran kaos itu sebagai soft launching rute baru BaliTrip untuk meningkatkan industri pariwisata Indonesia ke generasi muda agar semakin mengenal negerinya, dan mencintainya.

“Saya melestarikan tulisan jawa kuno dengan mengaplikasikan pada bahan kaos yang cocok dipakai oleh  traveler,” katanya setelah menikmati indahnya pulau Menjangan Bali.

Dia menyatakan design kaos sewaktu-waktu dapat berubah tergantung selera. Mungkin kaos motif batik klasik bisa diwujudkan dengan teknik sablon untuk memperkenalkan motif-motif batik ke para traveler.

Azis menegaskan motif klasik itu ditampilkan di atas sebagian kaos dari bahan yang berwana terang seperti putih, merah, pink, abu-abu atau ungu.

Azis menerangkan kaos itu menyasar target pasar semua kalangan usia 15-40 tahun yang modern, berpikiran sangat terbuka, cinta bangsa tetapi masih kurang peduli dengan budaya tradisional bangsa. “Harga kaos wisatakita itu dijual antara Rp50.000-Rp80.000 per potong,” papar dia.

Sebagian dari hasil penjualan kaos yang dirintisnya ini akan disumbangkan. Untuk order kaos ini bisa langsung kontak beliau di website wisatakita.com

Follow him on Twitter @TravelJunkieID

Travel Junkie Social Responsibility (TJSR) untuk Ngudi Ilmu

Mertelu, Traveljunkieindonesia.com – Sebagai bentuk komitmen saya menjadi seorang Travel Junkie in the world of travel writing adalah meningkatkan kesejahteraan hidup masyarakat, Travel Junkie telah melaksanakan beberapa program yang saya harapkan dapat meningkatkan kehidupan masyarakat Indonesia untuk menjadi lebih baik.

Travel Junkie Social Responsibility yang saya lakukan pada umumnya guna pengembangan dan peningkatan kualitas masyarakat. Kepedulian terhadap sesama, mengembangkan Green Environment serta memberikan dukungan dalam pengembangan lingkungan sosial.

Pada tahun ini, Travel Junkie Social Responsibility (TJSR) memberi paket buku (koleksi pribadi) untuk Ngudi Ilmu. Sebagai Travel Junkie yang belum kaya raya ini hanya dapat berharap dengan tulisan ini akan menggugah hati pemerhati sosial, pejuang sosial atau NGO untuk membantu taman baca Ngudi Ilmu ini. Saya belum pernah mendengar ada bantuan beasiswa bagi anak-anak kurang mampu di lingkungan dusun ini. Mungkin lokasi yang cukup pedalaman menjadikan lokasi ini kurang terjamah. Padahal, keindahan alamnya tak kalah oleh Ubud, Bali. Bisa dikatakan dusun ini terlihat seperti Ubud tahun 70an. Dengan dikelilingi oleh sawah, bukit, gunung, dan sungai-sungai yang berair bening dan berbatu yang masih alami.

Tantangan serius Ngudi Ilmu dan taman baca yang lain, sekarang ini adalah menjaga stamina dan konsistensi pengelola untuk tidak hanya melayani, tapi juga terus mendorong masyarakat gemar membaca. Di sini peran volunter yang mengelola sehari-hari taman baca jadi ujung tombak. Selain berjiwa sosial, idealnya mereka adalah orang-orang yang mencintai dunia buku. Merekalah yang menjadi penghubung antara aktivitas di Dusun dan saya yang nomadic. Tak mudah menemukan orang-orang yang punya dedikasi tinggi terlibat dalam voluntarisme di tengah deru pembangunan ini.

Pasokan buku-buku setiap bulannya adalah kendala lainnya. Meng-up date buku menjadi strategi penting untuk terus menggaet minat masyarakat untuk membaca. Kematian banyak taman baca seringkali dimulai oleh koleksi buku yang itu-itu saja.

Demi menjaga kontinyuitas dan pengembangan taman baca ini Ngudi Ilmu selalu membuka kesempatan bagi Anda dan berbagai pihak yang berminat menyumbang buku, barang-barang permainan anak, atau bentuk dukungan lainnya seperti membangun media online dalam upaya mendukung proses kelangsungan Ngudi Ilmu. Apapun bentuk dukungan Anda, Ngudi Ilmu percaya itu akan selalu bermanfaaat bagi kemajuan anak bangsa.

Informasi lebih lanjut bisa menghubungi:

Taman Baca Ngudi Ilmu: Dusun Mertelu, Gedang Sari, Gunung Kidul. Kode Pos 55863

Follow him on Twitter @TravelJunkieID

Halong Bay, Liveaboard, Unesco

Traveljunkieindonesia.com – Berkelana menjelajahi a Unesco World Heritage site where 3000 or more incredible islands rise from the emerald waters of the Gulf of Tonkin, Halong Bay. Simak catatan perjalanannya berikut.

Setelah beberapa hari keliling Vietnam selatan sampai lah kami di Hanoi, Kota super hot di ASEAN. Trip kali ini menuju Ha Long Bay dengan memakan waktu sekitar 4 jam melalui jalan darat, dari Hanoi. Hari itu hari yang cerah, kami diantar sebuah minibus penuh dengan turis asing. Pemandu kami pun sangat bersahabat dengan lawakan yang ringan dan cukup baik bahasa inggrisnya untuk vietnamese.

Perjalanan ke Ha Long Bay dijual dengan sistem paket dan banyak sekali agen travel yang menawarkannya di Hanoi, tentu dengan harga yang amat beragam. Anda harus memesannya setidaknya sehari sebelumnya. Ada paket yang hanya sehari, tanpa menginap. Ada juga paket 2 hari, 3 hari dan bahkan seminggu, menginap di sebuah pulau. Kami memesan paket 3 hari dengan memesan melalui internet, sudah termasuk ongkos naik kapal junk (kapal khas Indochina terbuat dari kayu seperti dipaparkan di film James Bond yang Tomorrow Never Dies) plus makan selama stay di junk. Minuman sayangnya harus beli dikapal, hal ini dapat disiasati dengan membawa air mineral didalam tas dan disimpan dikamar untuk persediaan selama liveaboard.

Sepanjang perjalanan dari Hanoi ke Ha Long Bay, kami disuguhi berbagai pemandangan pinggiran kota Hanoi. Rata-rata kontur tanahnya datar, mungkin karena menuju laut. Sawah padi ada tetapi tidak ekstensif. Kebanyakan ladang atau tanah luas yang belum digarap. Rumah-rumah penduduk tersusun dengan jarak yang jauh, per kluster. 1-2 jam pertama kami lalui di atas semacam highway, sebelum keluar ke jalan biasa. Minibus sempat berhenti istirahat di dua titik, yang juga difungsikan sebagai sentra buah tangan. Makanan dan minuman juga tersedia, walau tak spesial. Gedungnya pun biasa saja, besar seperti gudang.

Beberapa pegunungan kapur mulai terlihat ketika mendekati tujuan. Udara super hot di Hanoi sudah tak ada lagi. Gedung-gedung tak selesai dan trotoar yang ditumbuhi alang-alang menyambut, menyirat sebuah rencana jangka panjang yang tak kunjung selesai. Pikiran tak sempat tuntas ketika minibus yang kami tumpangi berhenti di sebuah dermaga.

Sir, madame. Two days? Come with him. Three days? You come with me.“ Setiap pelanggan paket sudah punya pemandu sendiri-sendiri, dan naik kapal yang berbeda.

Seketika kami disambut dengan kapal junk (junk boat) yang hanya menampung belasan turis alias private. Kapal ini terdiri dari 3 lantai, dek atas hanya terdapat kursi santai untuk sunbathing, dek tengah terdiri ruang penumpang dengan tempat duduk yang nyaman, yang juga berfungsi sebagai ruang makan, dan dek bawah hanya terdapat kamar-kamar penumpang yang cukup wah. Kapal berangkat tidak lama setelah kami naik.

Agenda pertama adalah makan siang. Makan siangnya cukup wah, makanan laut, sayur pelengkap dan babi. Kecuali minuman, semuanya sudah termasuk paket senilai USD100.

Ha Long Bay mirip dengan daerah selatan Thailand seperti Phang Nga di dekat pulau Phuket atau Raja Ampat Papua yang penuh dengan pulau-pulau yang terbuat dari batu gamping. Namun begitu, Raja Ampat tetap menjadi nomor satu untuk surga dunia dengan jumlah biodiversity yang sangat mengagumkan. Halong bay airnya cukup tenang dan kapalnya cukup lambat untuk membuat kita hanyut dalam lamunan, apalagi jika tidak ada kabut.

Yang membuat saya tertarik dalam trip ini adalah terjun bebas dari junk ke dasar laut yang hijau toska, berenang tak kenal arah, kayaking, membaca buku di bawah langit biru, main ke rumah suku laut, dinner romantik, dan menikmati keheningan tanpa teknologi tentunya. Apalagi ketika kita bangun tidur dan membuka jendela kamar dengan suguhan keindahan pulau-pulau kecil berbatu hijau. Amazing!

Ada beberapa perhentian di perjalanan ini, tergantung dari paket yang kita ambil. Bahkan kita bisa menginap di salah satu pulau. Paket standar adalah mengunjungi salah satu gua yang terbesar: Hang ??u G?. Di sini, kita dipandu ikut masuk menuju sistem stalaktit dan stalakmit yang beberapa di antaranya dianggap mirip dengan sosok hewan seperti kelinci, kura-kura, singa dan naga, hingga menyerupai penis dan vagina, jamur, dll.

Saya tak cukup tertarik dengan gua – yang lebih membuat saya datang adalah enjoying majestic and mysterious, inspiring and imperious, a Unesco World Heritage site where 3000 or more incredible islands rise from the emerald waters of the Gulf of Tonkin. Kapal melaju tenang. Tak ada musik, tak ada keributan. Seketika, semua orang yang ada di kapal pun menikmati keheningan yang luar biasa. Lamunan pun hanya bisa dihentikan dengan menyadari kapal sedang melewati pulau berbentuk seperti apa yg terimaginasikannya.

Perjalanan pulang kami ditemani langit yang mulai meredup menjelang senja, suhu tetap super hot dan pakaian kurang sopan tetap melekat pada kulit kami. Trip kami selanjutnya adalah kembali ke Vietnam selatan untuk menghabiskan mata uang dong yang masih menebal hehe…

Follow us on Twitter @TravelJunkieID

Indonesia by the Book

Traveljunkieindonesia.com – While travel was once a privilege enjoyed exclusively by the wealthy, the prevalence of low-fare airlines now allows more people to visit even the remotest places in the world.

And for most travelers, a guide book holds the key to the secrets of a foreign land. At least, that’s the view of Indonesian backpacker Bowie Holiday.

“It’s our holy book,” he says of the Lonely Planet travel guide.

Lonely Planet was founded in 1972 by Tony Wheeler and Maureen Wheeler as a guide for backpackers. It now publishes 500 book titles in eight languages. Partially owned by BBC Worldwide, Lonely Planet also produces television programs, magazines and mo bile phone applications.

For travelers who want to explore Indonesia, the ninth edition of Lonely Planet Indonesia, released in January, offers a wealth of information about the world’s largest archipelago. The 908-page book is divided by region into eight sections: Java, Bali, Sumatra, Nusa Tenggara, Kalimantan, Sulawesi, Maluku and Papua. You can find information about well-known attractions, as well as obscure, remote locations, to visit across the country.

Lonely Planet highlights Indonesia’s astonishing beauty and invites the traveler to check out the archipelagos’s numerous isles. Among its top recommendations is Derawan Island in East Kalimantan, known for its turtles and rich coral reefs. The book describes Derawan as “the tropical island you came to Southeast Asia dreaming about.”

The guide book also recommends a visit to the Gili Islands where you can, “happily burn daylight hours diving, snorkeling or chilling by the sea.”

Lonely Planet reminds travelers that Indonesia is not just about gorgeous sunsets or beautiful beaches.

“Jakarta is a hard city to love,” says Lonely Planet. But besides its busy streets and slums, the guide book points out the city’s good-natured people and the unforgettable clubbing experience visitors can enjoy. Tourists can also rely on the guide book to find great museums and other historic attractions that Jakarta has to offer.

Lonely Planet provides interesting details about the history and culture of each destination and contains easy-to-read instructions on how to find hotels, restaurants, ATMs and other practical services needed by every traveler. The book also provides useful transportation options to consider when planning your itinerary.

A good travel guide will help you get around without getting lost, says Bowie, a marketer who caught the travel bug in 2008. It should also provide guidelines on local customs and how to behave in various destinations, he adds.

Bowie always has a Lonely Planet in his bag when he travels and has 10 on his book shelf at home. “I feel safe having it around, knowing I have a trusted source where I can seek information,” he says.

Although Lonely Planet now serves mainstream and affluent travelers, along with low-budget backpackers, the book still holds invaluable information about how to travel on the cheap.

For Bowie, getting to know a place means avoiding luxurious and sterile locations. “That’s not travel,” he says.

For travelers like Bowie, who like to visit places most people don’t know about, Lonely Planet provides directions on how to get to the not-so-popular destinations. He likes to focus on the unusual things about a place and is always eager to learn about the quirks of its culture and people.

Bowie has been to a lot of remote locations in Indonesia, such as Weh island in Aceh, Singkep island in Kepulauan Riau and Karimun Jawa in Central Java.

Beaches are his favorite. “Nothing can beat lying on the white sand reading a book while listening to the sound of the waves and getting a tan,” he says.

Despite its popularity among travelers, Bowie says Lonely Planet Indonesia is not perfect. “There’s so much information missing,” he says.

He points out that Kakaban Island, near Derawan Island, is not included in the book. Kakaban has a unique brackish lake filled with non-stinging jellyfish, making it a world-class diving site. “There are only two places like that in the world,” he says, the other being on Palau in the Pacific Ocean.

Bowie rates the book an eight out of 10. “Perhaps Indonesia is just too large to put in one book,” he says.

Lonely Planet Indonesia Ninth Edition

(By Ryan Ver Berkmoes, Celeste Brash, Muhammad Cohen, Mark Elliott, Trent Holden, Guyan Mitra, John Noble, Adam Skolnick, Iain Stewart and Steve Waters.)

Follow him on Twitter @TravelJunkieID

Tips Aman Naik Pesawat Terbang

Traveljunkieindonesia.com – Berikut ini merupakan bentuk social responsibility dari seorang Travel Junkie Indonesia untuk mensosialisasikan tips aman naik pesawat terbang. semoga hal ini menjadi kesadaran dan keselamatan bagi kita bersama.

Mengapa ketika take off dan landing sandaran kursi harus ditegakkan? Karena, Take Off dan Landing merupakan proses paling krusial dalam sebuah penerbangan, pada saat itu lah pesawat dalam kecepatan tinggi. Jika terjadi sesuatu yang tidak diinginkan, pilot perlu melakukan immediate action (tindakan segera), misalnya, membatalkan take off. nah, pada saat itu akan ada instruksi bagi penumpang untuk mengambil bent down (duduk dengan badan ditundukkan sambil memegang kaki), yang merupakan posisi paling aman untuk melindungi diri dari benturan. Bila kursi tidak dalam keadaan tegak, tentu akan sulit untuk melakukan tindakan bent down secepatnya. Selain itu, penumpang yang duduk di belakang anda, akan terkena sandaran kursi anda pada saat dia akan melakukan bent down

Mengapa ponsel harus dimatikan? Ponsel harus dimatikan sepanjang perjalanan, bukan hanya pada saat take off dan landing. ketika berada di ketinggian, tidak ada ponsel yang bisa berfungsi karena tidak ada sinyal yang sampai. Bila ponsel dinyalakan, sekalipun dibuat silent, meski tidak ada sinyal, ponsel akan terus mencari2 sinyal. Hal itu akan mengganggu system komunikasi yg ada di cockpit, karena alat komunikasi pesawat sangatlah sensitif.misalny saat mesin komunikasi menyebut bahwa ketinggian pesawat adalah 2.000 kaki, tapi karena diganggu bunyi kresek2 akibat ponsel yang sedang mencari sinyal, maka bisa saja kedengaranny jadi 20.000 kaki, karena yang terdengar hanya angka 2 saja. Akibatny, karena dianggap terlalu tinggi, maka pilot akan menurunkan ketinggian dan bisa2 pesawat menabrak gunung. Alat navigasi juga ikut terganggu sehingga petunjuk arah menjadi tidak akurat bahkan melenceng sama sekali. Meski hanya satu ponsel yang menyala, pencarian sinyal itu akan tetap mengganggu. Apalagi klo semua ponsel milik penumpang menyala. Bukan mustahil petunjuk navigasi akan hilang beberapa detik dan itu sangat berbahaya dan bisa juga mengakibatkan alat navigasi mati total.

Mengapa penutup jendela juga harus dibuka? Agar penumpang juga ikut waspada, misalnya bila ada percikan api di sayap pesawat. Selain itu, penumpang juga bisa ikut melihat posisi pesawat apakah mendekati laut atau daratan saat akan melakukan pendaratan darurat sehingga bisa secepatny memutuskan apakah perlu mengenakan jaket pelampung atau tidak.

Pentingkah memerhatikan demo keselamatan yang diperagakan pramugari? sangat penting, karena tiap pesawat memiliki kondisi interior yang berbeda-beda, misalny dalam hal letak pintu darurat. Kalaupun sudah sering mendengar, tidak ada salahny tetap memerhatikan, sekedar untuk mengingat kembali dan bisa mengantisipasi bila terjadi sesuatu. Baca pula kartu prosedur keselamatan yg biasanya diselipkan di kantong tempat duduk depan anda. Yang tak kalah penting, periksa selalu keberadaan life vest yg ada di bawah tempat duduk anda. Jika tidak ada, segera minta ke pramugari.

Tips aman naik pesawat terbang kali ini benar-benar tak ada artinya. Ini terlihat jelas ketika, saya berada dalam penerbangan domestik dengan pesawat komersial asal Australia JS di vietnam. Ya Tuhan, kenapa kejadian ini terulang kembali didepan mata saya, terasa dejavu naik pesawat domestik Indonesia bagian timur beberapa waktu lalu. Hal penting yang hanya bisa saya lakukan adalah banyak-banyak berdoa dan menghela nafas panjang semoga pesawat ini benar-benar warisan medan perang yang paling canggih. Dan, amien. Akhirnya selamat sampai tujuan!

Follow us on Twitter @TravelJunkieID

Pulau Tidung, Sampah, Travel Junkie Indonesia

Kepulauan seribu – Traveljunkieindonesia.com – Berbekal sebuah itinerary dari temen di FB, Tiga hari penuh saya telusuri pulau Tidung dan pulau-pulau sekitar, dan terkesima dengan keburukan pulau tersebut yang kini menjadi salah satu pulau favorite baru.

Dari pelabuhan Muara Angke, terlihat antrian panjang para traveler yang akan haus keindahan pulau Tidung. Konon, yang mengunjungi pulau tidung long weeken ini sekitar 2000 traveler.Dermaga muara angke ini terkesan tak terurus mungkin karena menjadi satu dengan dermaga untuk nelayan dan pasar ikan tradisional. Tapi, begitu sampai, ternyata tampilan pulau Tidung lumayan juga. Bentuknya agak mengingatkan saya pada kepulauan karimunjawa di Jepara pada 2015, jika tourism management karimunjawa belum ada perubahan. Matahari Pulau Tidung yang terik menyambut gembira begitu saya keluar dari kapal kayu berpenumpang tak terhingga itu, untuk kemudian bergegas menuju homestay Bu Ida (085710185087 / 085810225221), tepatnya di sebelah SLTP Negeri 241 JKT.

Setelah menempuh perjalanan sekitar 2 jam dari Muara Angke, sampailah saya di homestay. Rumah penduduk lokal berwarna hijau putih dan bersih yang terletak sekitar 5 menit dari dermaga ini merupakan bangunan peninggalan Wa’Turup (Panglima Hitam) tokoh yang dihormati penduduk lokal dan makamnya kini dikramatkan di pulau tidung kecil. Jangan harap disana mendapatkan Hotel atau resort mewah, di sana hanya terdapat rumah penduduk lokal yang disulap menjadi homestay.

Untuk Anda yang sedang traveling on a budget, pulau Tidung bisa jadi pilihan alternative lain. Selain harganya yang murah, lokasinya juga strategis. Pulau ini dibagi menjadi dua Tidung Besar dan Tidung Kecil. Di sini, berbagai restoran dan pilihan jajanan pinggir jalan yang menyajikan aneka menu, mulai dari bakmi, bakso, hingga es yang terkenal, bisa Anda temukan. Lalu, ada pula Jembatan Cinta penghubung Tidung Kecil dan Tidung Besar yang dapat ditempuh hanya dalam 8–10 menit berjalan kaki. Di setiap jalan, terdapat tempat rent sepeda yang bisa mengantarkan Anda keliling Pulau dengan nyaman.

Ada satu tempat yang sukses membuat penasaran, setelah saya dan beberapa teman travel junkie, browsing dari blog-blog dan menurut info dari berbagai sumber, Pulau Tidung ini 3 bulan terakhir sedang naik daun dan terpilih jadi salah satu pulau terfavorite di Kepulauan Seribu. Akhirnya, kami sepakat memilih Pulau Tidung sebagai tujuan long weekend kali ini. Sambil menenteng tas selempang made in Bali yang berisi beberapa buku, kain bali, sunblock, dan bantal tiup, kami pun memulai perjalanan. Rencananya, Saya ingin mengexplore pulau ini untuk mencari spot menikmati berjuta kata-kata dalam buku, blue sky, white sand, deru ombak, dan tak ada teknologi tentunya. Tapi, berhubung tak ada spot bagus, saya pun gagal menikmati semua itu. Dan, ternyata pulau ini dikelilingi sampah dimana-mana. Sungguh sangat disayangkan pulau cantik ini berubah menjadi pulau bantar gebang. Semoga dengan artikel ini pihak terkait tersentuh dan memperbaikinya sebelum semua terlambat.

Setelah berjalan manis, kami mencoba menyewa sebuah kapal untuk mengexplore pulau-pulau sekitar dan menikmati olahraga underwater. Pulau lainnya pun. Rasanya, sih, tidak terlalu wah. Tapi cukup menyegarkan di bandingkan sampah Tidung.

Dari pulau-pulau yang saya singgahi, pulau Kotok, pulau Air, pulau Payung, dan lain-lain. Ada, satu pulau kosong yang menarik. Pulau ini tak bernama, maka dengan itu saya memberi nama pulau Travel Junkie Indonesia. Luasnya sekitar 100 meter dan hanya ada pasir putih dengan air berwarna biru. Tapi, sayang, pulau ini terlihat diabaikan. Mungkin beberapa tahun kedepan pulau ini akan hilang terkikis ombak.

Penduduk Pulau Tidung mayoritas beragama islam dan hanya satu orang beragama non muslim, kami tak heran karena banyak petunjuk-petunjuk yg menggunakan beberapa bahasa termasuk bahasa arab. Berhubung pakaian saya kala itu kurang sopan, saya mendapat tegur dari sekelompok pria yang menggunaka busana muslim di ujung pantai barat menjelang sunset. Beruntung, ada sekelompok turis chinese yang dengan santai masuk ke areal itu. Dan, itu lah waktu tepat agar saya tak mendapatkan ceramah lebih lama lagi, namanya juga liburan dipantai masa pake baju tertutup, kan mau tanned. Hal sampah ini lah yang menjadi “Here’s something to remember this place,” sambil tersenyum dan garuk-garuk kepala sambil berucap dengan logat betawi yang kental. Akan kah saya berkunjung ke pulau Tidung lagi? Hehehe…

Follow him on Twitter @TravelJunkieID

Travel Junkie, Inspirasisehat, Bion3

Traveljunkieindonesia.com – Gaya hidup nomadic telah menjadikan saya menjalani kehidupan yang serba instan, praktis, dan cepat. Tuntutan hidup yang tinggi dan tak mengenal waktu membuat travel junkie mudah terjebak dalam pola makan dan istirahat yang tidak teratur. Menjadi seorang Travel Junkie pasti pernah sakit dan loyo, pada hal sudah mengkonsumsi berbagai macam tablet multivitamin atau food supplement.

kekurangan suatu vitamin atau zat tertentu biasanya tubuh memberikan tanda-tanda. Sayangnya, saya tidak peka terhadap tanda-tanda tersebut. Kemarin malam, saya tidak sengaja membuka portal kesehatan www.inspirasisehat.com dan isinya sangat inspiratif sekali.

Berikut adalah beberapa tanda bahwa tubuh saya kekurangan zat tertentu:

Mata terasa kering, Mata yang terasa kering kerap disebabkan oleh kondisi lingkungan sekitar kita. Ini disebabkan karena air mata saya tidak dapat melapisi mata dengan baik. Atasi ini dengan mengonsumsi vitamin A dan asam lemak esensial. Sebaiknya konsumsi sayuran atau buah yang berwarna hijau, kuning atau orange.

Pecah-pecah di bagian ujung mulut, Penyebabnya dapat terjadi dikarenakan saya kekurangan zat besi, vitamin B12, B6 dan asam folat. Sebaiknya Anda mengonsumsi daging, kacang-kacangan dan sayuran berwarna hijau.

Bibir pecah-pecah, Bibir pecah-pecah yang sering kita indikasikan sebagai tanda bahwa tubuh saya mengalami panas dalam, disebabkan karena kekurangan vitamin B2. Sebaiknya konsumsi daging dan produk susu.

Kulit memerah di wajah berminyak, Kemungkinan kekurangan vitamin B2, B6, zink atau asam lemak esensial. Sebaiknya konsumsi daging, ikan, unggas dan kerang.

Jerawat, Timbulnya jerawat, selain bisa disebabkan karena kotoran yang menghambat di pori-pori kulit wajah, kemungkinan lainnya saya juga bisa karena kekurangan vitamin B kompleks, vitamin E dan asam lemak esensial. Sebaiknya konsumsi produk hewani, sereal, unggas dan makanan laut.

Rambut tipis, Kemungkinan saya kekurangan zat besi atau zink. Sebaiknya konsumsi daging, kacang-kacangan, produk susu dan kerang.

Ketombe, Kulit kepala yang berminyak serta kotoran yang menempel di rambut dapat menyebabkan ketombe. Tapi, ternyata selain itu ketombe juga dapat disebabkan karena saya kekurangan vitamin C, B6, zink dan asam lemak esensial. Sebaiknya konsumsi buah-buahan seperti jeruk, daging, ikan, unggas dan produk susu.

Mata merah, Mata yang merah seringkali kita indikasikan karena kelelahan atau kemasukan debu. Namun, ternyata mata merah mengindikasikan bahwa saya kemungkinan kekurangan vitamin A dan B2. Sebaiknya konsumsi produk susu, daging, buah atau sayuran berwarna orange dan hijau.

Ok, masalahnya adalah setiap saya traveling tidak selalu mengkonsumsi makanan-makanan yg sehat seperti diatas. Dengan mengkonsumsi Bion3 secara rutin dan teratur sebutir sehari, Saya sudah memiliki “senjata” yang cukup untuk melawan tanda-tanda kekurangan vitamin dan berbagai kuman penyebab penyakit sehingga saya lebih sehat, fit, dan tidak mudah sakit.

Ini karena saya mengkonsumsi Bion3 dengan Probiotik-nya dalam jumlah besar, mampu meningkatkan aktivitas sistem imun tubuh, detoksifikasi racun akibat bakteri pathogen dan membantu meningkatkan penyerapan vitamin serta daya tahan tubuh saya secara maksimal.

Follow us on Twitter @TravelJunkieID

Caribbean Van Java

Jepara, Traveljunkieindonesia.com – Karimun Jawa, Indonesia adalah salah satu gugus kepulauan di laut jawa yang patut untuk di singgahi. Bagi para diver, Caribbean Van Java (nama lain karimunjawa dari travel junkie Indonesia) merupakan salah satu spot surga yang ada di Indonesia. Kekayaan biota lautnya lebih dari 90 jenis karang keras dan 242 spesies ikan. Tidak hanya kaya akan terumbu karang, Karimun Jawa memiliki hutan mangrove, kawasan hutannya dihuni pula hewan-hewan yang dilindungi. Elang Laut dada putih, rusa, penyu sisik, penyu hijau, dan monyet ekor panjang. Anda ingin berenang bersama hiu? Yup, karimun jawa dapat mengabulkan keingian Anda bermain bersama hiu. Disini terdapat penangkaran hiu dan pari.

Caribbean van Java luar biasa indah, dan tak terlupakan. AMAZING!

To Do List :
1. Naturist Adventures
2. Naturist Dives
3. Small Budget High Impact

Surga Dunia

Surga itu ada ditelapak kaki ibu, untuk hal duniawi surga itu ada di Indonesia. Ingin menikmati surga dunia? Indonesia lah tempatnya. Asal kita jeli yang dekat pun banyak dan small budget high impact loh. Sayangnya masih banyak penduduk Indonesia yang lebih bangga melakukantraveling keluar negeri dan berfoto ria disalah satu icon negara orang dan mengupload foto tersebut di media social network. Mereka secara tak sadar telah mempromosikan negara orang! Kinilah saatnya kita mempromosikan surga dunia (Indonesia) tersebut kepada dunia.

Wonderful Indonesia!

Follow him on Twitter @TravelJunkieID

Tips for Traveling While Pregnant

Traveljunkieindonesia.com – Trip travel junkie kali ini ditemani oleh seorang sahabat yang kebetulan sedang hamil. Ibu hamil ini nekad tetap ikut trip yang sudah di plan beberapa bulan sebelumnya. “Ibu hamil bukan berarti tidak boleh bepergian jauh, asal memperhatikan tips wanita hamil itu ok ok saja”, tutur, Veronika Pasaribu, Ibu hamil Travel Junkies.

Apa saja kah hal penting yang mesti diperhatikan seorang traveler saat hamil? Berikut Tips Traveling untuk wanita hamil:

1. Pakaian, Gunakan pakaian yang nyaman dan enak buat gerak. Jangan yang bahannya panas, bahan katun lebih asyik. Kenapa? Karena ibu hamil itu mudah berkeringat. Jika travelling ke iklim dingin bawa lah pakaian yang bisa mengcover seluruh badan.

2. Minum air putih & bergerak, Wanita hamil sangat rentan terhadap dehidrasi dan beresiko varises, sehingga bawalah buah-buahan kaya vitamin, seperti anggur, plums, jeruk atau apricots kering. Pastikan Anda membawa air mineral selama traveling.

3. Alas Kaki, Pilih sendal atau sepatu yg nyaman, kaki harus bebas bernapas.

4. Waktu, Waktu terbaik untuk ibu hamil melakukan trip adalah periode 14-28 minggu

5. Catatan Medis, Bawa catatan medis Anda dan daftar lokasi rumah sakit lokal dari kedutaan atau badan pariwisata.

6. Asuransi, Bawa asuransi dan daftar nama orang-orang yang dihubungi dalam kondisi darurat.

7. Surat Rekomendasi, Bawa surat rekomendasi dokter jika maskapai penerbangan meminta.

8. Check Up, Lakukan check up ke dokter kandungan sebelum traveling

9. Hindari Daerah Vaksinasi, Hindari trip ke negara yang mewajibkan imunisasi, karena dapat mengganggu janin

10. Istirahat cukup, Jika sudah di kota tujuan semua bisa lupa dan pastikan Anda istirahat cukup. Pilih tujuan wisata yang masih cukup nyaman untuk ibu hamil.

11. Sunblock, Kulit wanita hamil lebih sensitif, oleh karena itu gunakan pelindung matahari yang lebih kuat daripada yang biasanya.

12. Hindari menyelam dan olahraga air saat hamil

Di atas semuanya, nikmati lah traveling Anda. Pastikan Anda senang, maka si baby dalam kandungan akan ikut senang.

Follow him on Twitter @TravelJunkieID

Tips Traveling Tanpa Merusak Lingkungan

KOMPAS/LASTI KURNIA Gili Trawangan bak kampung berwarga negara asing, turis asing hilir mudik dengan sepeda sewaan.

Traveljunkieindonesia.com – Traveling memang asyik, tapi tanpa disadari traveling pun bisa memberikan dampak buruk bagi lingkungan, terutama dari segi emisi gas karbon. Selain itu, tak jarang kawasan wisata yang sebelumnya memiliki pemandangan yang mempesona, rusak akibat kunjungan para traveler yang tidak mempedulikan kelestarian alam.

Berikut adalah tips yang bisa dipraktekkan agar traveling memberikan dampak yang minimal bagi lingkungan.

1. Hindari penggunaan kendaraan yang mengeluarkan emisi CO2nya besar dalam melakukan perjalanan ke tempat tujuan.

2. Gunakan sarana transportasi massal, sewa sepeda, delman atau berjalan kaki untuk menikmati keindahan dan keunikan daerah yang kita kunjungi termasuk tempat-tempat indah yang tersembunyi.

3. Berkenalan dengan banyak orang saat di perjalanan, salah satu cara agar bisa share kendaraan. Hal itu akan menghemat emisi CO2, menghemat biaya perjalanan, dan tentunya menambah banyak teman.

4. Belilah makanan di kaki lima, warung, atau restauran penduduk. Hal itu dapat mengurangi emisi yang digunakan untuk mengangkut bahan makanan dari lokasi yang jauh serta memberikan kontribusi langsung pada masyarakat lokal. Selain itu, biasanya perangkat makan di warung lokal tidak menggunakan plastik/styrofoam.

5. Pilih makanan dan minuman lokal. Selain dapat merasakan makanan dan minuman dari daerah asal, juga untuk mengurangi emisi CO2 yang dihasilkan dari barang impor.

6. Bawa botol minuman sendiri sehingga bisa diisi ulang.

7. Bawa kantong belanja sendiri untuk mengurangi sampah plastik.

8. Membuang sampah pada tempatnya.

9. Ambil spot wisata yang menawarkan layanan yang lebih ‘hijau” atau punya program lingkungan.

10. Dorong industri pariwisata untuk melakukan social responsibility. Sebuah hasil penelitian menunjukkan bahwa banyak wisatawan asing yang bersedia membayar lebih mahal asal kegiatan liburan mereka itu membantu sesama, ramah lingkungan dan melestarikan kebudayaan setempat.

Tips ini juga bisa dibaca di Kompas

Follow me on Twitter @TravelJunkieID